Geliat Srikandi UMKM
Sabtu, 12 September 2020 - 06:11 WIB
Menurut Indeks Global Destination Cities, indeks pengusaha perempuan Indonesia menempati urutan ke-30 dengan sektor usaha 62,4%. Tentu saja Indonesia masih terbilang kalah unggul dari Singapura yang sebesar 92,6%, Selandia Baru dengan 74,2%, Swedia 71,3%, Kanada 70,9%, Amerika Serikat 70,8%, Portugal 69,1%, Australia 68,9%, Belgia 68,7%, Filipina 68%, dan Inggris 67,9%.
"Itu berarti Indonesia terpaut selisih jauh dari Singapura sekitar 30,2% dan pemerintah selalu membantu mendorong para pegiat UMKM dengan berbagai kemudahan seperti menyediakan ?kamar ekspor. Waktu itu kita sudah mencoba melakukan ekspor produk makanan ke China seperti keripik," urai Pribudiarta.
Lebih dari itu penyerapan tenaga kerja di UMKM juga terhitung tinggi, yakni sekitar 96,99% dari total tenaga kerja. Hal ini karena UMKM tersebar di seluruh penjuru negeri dan menguasai sekitar 99% aktivitas bisnis dengan lebih dari 98% berstatus usaha mikro.
"Kuatnya UMKM yang banyak dikelola perempuan dalam membangun perekonomian nasional karena keunggulannya di beberapa faktor. Di antaranya punya kemampuan fokus pada yang spesifik, fleksibilitas nasional, biaya rendah, dan kecepatan inovasi," papar Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang. (Baca juga: Besok, Pembicaraan Damai Afghanistan Digelar di Qatar)
Peran perempuan di sektor UMKM pada umumnya terkait dengan bidang perdagangan dan industri pengolahan seperti warung makan, toko kelontong, pengolahan makanan, industri kerajinan, dan beberapa bidang lain.
"Beberapa sektor usaha ini dipilih karena keleluasaannya untuk dilakukan di rumah sehingga tidak melupakan perannya sebagi ibu rumah tangga. Namun pengembangan UMKM dalam konteks ini harus diletakkan sebagai usaha peningkatan produktivitas sektor publik," tambah Sarman.
Sesungguhnya perempuan pengusaha relatif lebih tangguh dalam menghadapi dinamika bisnis. Akan tetapi masih banyak kendalanya sehingga membuat usaha tidak berkembang signifikan. "Masih ada kekurangan dari para UMKM perempuan ini, salah satunya masih minimnya akses terhadap informasi keterampilan dan akses penguatan keuangan," tutur Sarman.
Meskipun awalnya UMKM yang digeluti perempuan lebih banyak sebagai pekerjaan sampingan untuk membantu suami dan untuk menambah pendapatan keluarga, dalam perkembangannya justru menjadi sumber pendapatan rumah tangga utama apabila dijalankan secara serius. (Baca juga: Inilah Negara-negara di Dunia yang Memiliki Hulu Ledak Nuklir)
"Itu berarti Indonesia terpaut selisih jauh dari Singapura sekitar 30,2% dan pemerintah selalu membantu mendorong para pegiat UMKM dengan berbagai kemudahan seperti menyediakan ?kamar ekspor. Waktu itu kita sudah mencoba melakukan ekspor produk makanan ke China seperti keripik," urai Pribudiarta.
Lebih dari itu penyerapan tenaga kerja di UMKM juga terhitung tinggi, yakni sekitar 96,99% dari total tenaga kerja. Hal ini karena UMKM tersebar di seluruh penjuru negeri dan menguasai sekitar 99% aktivitas bisnis dengan lebih dari 98% berstatus usaha mikro.
"Kuatnya UMKM yang banyak dikelola perempuan dalam membangun perekonomian nasional karena keunggulannya di beberapa faktor. Di antaranya punya kemampuan fokus pada yang spesifik, fleksibilitas nasional, biaya rendah, dan kecepatan inovasi," papar Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang. (Baca juga: Besok, Pembicaraan Damai Afghanistan Digelar di Qatar)
Peran perempuan di sektor UMKM pada umumnya terkait dengan bidang perdagangan dan industri pengolahan seperti warung makan, toko kelontong, pengolahan makanan, industri kerajinan, dan beberapa bidang lain.
"Beberapa sektor usaha ini dipilih karena keleluasaannya untuk dilakukan di rumah sehingga tidak melupakan perannya sebagi ibu rumah tangga. Namun pengembangan UMKM dalam konteks ini harus diletakkan sebagai usaha peningkatan produktivitas sektor publik," tambah Sarman.
Sesungguhnya perempuan pengusaha relatif lebih tangguh dalam menghadapi dinamika bisnis. Akan tetapi masih banyak kendalanya sehingga membuat usaha tidak berkembang signifikan. "Masih ada kekurangan dari para UMKM perempuan ini, salah satunya masih minimnya akses terhadap informasi keterampilan dan akses penguatan keuangan," tutur Sarman.
Meskipun awalnya UMKM yang digeluti perempuan lebih banyak sebagai pekerjaan sampingan untuk membantu suami dan untuk menambah pendapatan keluarga, dalam perkembangannya justru menjadi sumber pendapatan rumah tangga utama apabila dijalankan secara serius. (Baca juga: Inilah Negara-negara di Dunia yang Memiliki Hulu Ledak Nuklir)
Lihat Juga :