Trump Desak NATO Hentikan Impor Minyak Rusia dan Terapkan Tarif Tinggi ke China
Selasa, 23 September 2025 - 07:37 WIB
Trump dalam unggahannya juga mendorong penerapan tarif impor sebesar 50–100 persen terhadap produk asal China. Tarif itu, menurutnya, bisa dicabut setelah perang berakhir. "China memiliki cengkeraman kuat atas Rusia. Tarif tinggi akan menghancurkan kendali itu. Jika NATO melakukan hal yang saya katakan, perang akan segera berakhir dan ribuan nyawa terselamatkan," ujarnya.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, Trump telah menaikkan tarif impor India sebesar 25–50 persen. Kebijakan itu diberlakukan karena New Delhi tetap membeli minyak Rusia dengan harga diskon. Namun, ia masih membuka ruang negosiasi dengan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Di sisi lain, AS dan China kini tengah menjalani masa jeda tarif sambil menegosiasikan kesepakatan dagang. Sebelumnya, Washington memberlakukan tarif hingga 145 persen pada produk China dan dibalas Beijing dengan tarif 125 persen terhadap barang asal AS. Penerapan tarif baru oleh NATO dikhawatirkan justru menekan perekonomian AS dan Eropa.
Dorongan Trump kepada NATO muncul di tengah lambannya langkah Washington menjatuhkan sanksi langsung terhadap Rusia. Kongres AS saat ini sedang membahas rancangan undang-undang (RUU) yang akan memperketat sanksi, termasuk sanksi sekunder terhadap China dan India karena tetap membeli minyak Rusia.
RUU itu digagas Senator Lindsey Graham dan Anggota DPR Brian Fitzpatrick dari Partai Republik. Mereka berupaya meloloskan aturan tersebut dengan mengaitkannya pada resolusi lanjutan (continuing resolution/CR) agar pemerintahan federal tetap berjalan.
"Kami akan mendorong rekan-rekan dari kedua kubu untuk mendukung RUU ini dan berdiri bebas melawan tirani. Waktu sangat mendesak," kata Graham dan Fitzpatrick dalam pernyataan bersama.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, Trump telah menaikkan tarif impor India sebesar 25–50 persen. Kebijakan itu diberlakukan karena New Delhi tetap membeli minyak Rusia dengan harga diskon. Namun, ia masih membuka ruang negosiasi dengan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Di sisi lain, AS dan China kini tengah menjalani masa jeda tarif sambil menegosiasikan kesepakatan dagang. Sebelumnya, Washington memberlakukan tarif hingga 145 persen pada produk China dan dibalas Beijing dengan tarif 125 persen terhadap barang asal AS. Penerapan tarif baru oleh NATO dikhawatirkan justru menekan perekonomian AS dan Eropa.
Dorongan Trump kepada NATO muncul di tengah lambannya langkah Washington menjatuhkan sanksi langsung terhadap Rusia. Kongres AS saat ini sedang membahas rancangan undang-undang (RUU) yang akan memperketat sanksi, termasuk sanksi sekunder terhadap China dan India karena tetap membeli minyak Rusia.
RUU itu digagas Senator Lindsey Graham dan Anggota DPR Brian Fitzpatrick dari Partai Republik. Mereka berupaya meloloskan aturan tersebut dengan mengaitkannya pada resolusi lanjutan (continuing resolution/CR) agar pemerintahan federal tetap berjalan.
"Kami akan mendorong rekan-rekan dari kedua kubu untuk mendukung RUU ini dan berdiri bebas melawan tirani. Waktu sangat mendesak," kata Graham dan Fitzpatrick dalam pernyataan bersama.
Lihat Juga :