Sektor Riil Megap-megap, Banjir Likuiditas Tak Cukup Dongkrak Ekonomi
Minggu, 28 September 2025 - 12:38 WIB
Menurut Eisha, kebijakan fiskal perlu diarahkan untuk menjaga keseimbangan, bukan semata-mata menyalurkan dana ke perbankan. Sebab, perbankan nasional sejatinya tidak menghadapi masalah likuiditas. Loan to Deposit Ratio (LDR) per Juli 2025 masih berada di level 87 persen, jauh di bawah ambang batas aman OJK sebesar 94 persen. Pertumbuhan kredit hanya 6,7 persen, hampir setara dengan kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 6,6 persen.
Di sisi lain, likuiditas justru menumpuk di pasar moneter. Posisi operasi moneter Bank Indonesia pada awal September 2025 mencapai Rp991 triliun, naik dari Rp904 triliun setahun sebelumnya. Sebanyak 70 persen dana perbankan ditempatkan pada Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) karena menawarkan imbal hasil tinggi, bukan untuk pembiayaan kredit produktif. "Masalah utamanya bukan ketersediaan dana, melainkan lemahnya permintaan kredit akibat ketidakpastian usaha," kata Eisha.
Baca Juga: Dana Rp200 Triliun Belum Cukup, Sektor Riil Harus Dibenahi
Ia menilai pemerintah perlu memusatkan strategi fiskal pada penguatan daya beli masyarakat terutama kelompok berpenghasilan rendah, agar konsumsi domestik bisa kembali bergairah. Kendati demikian, Eisha mengingatkan stimulus fiskal hanya bersifat sementara. Insentif pajak maupun bantuan sosial memang mampu menopang ekonomi dalam jangka pendek, namun tidak menyentuh masalah mendasar berupa stagnasi pendapatan riil dan minimnya penciptaan lapangan kerja.
Eisha menegaskan solusi jangka panjang bergantung pada reformasi struktural untuk memperbaiki iklim investasi dan kepastian usaha. Tanpa langkah tersebut, banjir likuiditas hanya akan memperlebar jurang antara sektor moneter dan sektor riil yang sejak 2024 makin terpisah akibat kebijakan pengetatan moneter.
Di sisi lain, likuiditas justru menumpuk di pasar moneter. Posisi operasi moneter Bank Indonesia pada awal September 2025 mencapai Rp991 triliun, naik dari Rp904 triliun setahun sebelumnya. Sebanyak 70 persen dana perbankan ditempatkan pada Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) karena menawarkan imbal hasil tinggi, bukan untuk pembiayaan kredit produktif. "Masalah utamanya bukan ketersediaan dana, melainkan lemahnya permintaan kredit akibat ketidakpastian usaha," kata Eisha.
Baca Juga: Dana Rp200 Triliun Belum Cukup, Sektor Riil Harus Dibenahi
Ia menilai pemerintah perlu memusatkan strategi fiskal pada penguatan daya beli masyarakat terutama kelompok berpenghasilan rendah, agar konsumsi domestik bisa kembali bergairah. Kendati demikian, Eisha mengingatkan stimulus fiskal hanya bersifat sementara. Insentif pajak maupun bantuan sosial memang mampu menopang ekonomi dalam jangka pendek, namun tidak menyentuh masalah mendasar berupa stagnasi pendapatan riil dan minimnya penciptaan lapangan kerja.
Eisha menegaskan solusi jangka panjang bergantung pada reformasi struktural untuk memperbaiki iklim investasi dan kepastian usaha. Tanpa langkah tersebut, banjir likuiditas hanya akan memperlebar jurang antara sektor moneter dan sektor riil yang sejak 2024 makin terpisah akibat kebijakan pengetatan moneter.
(nng)
Lihat Juga :