3 Alasan Menkeu Purbaya Sebut Pertamina Malas-malasan
Kamis, 02 Oktober 2025 - 18:06 WIB
"Pertamina bilang: kami keberatan dengan usul tersebut, karena kami sudah overcapacity. Waktu itu saya kaget, overcapacity apa? Kami sudah berencana bangun 7 kilang baru, satu pun nggak jadi kan. Tapi ke depan akan jadi, sampai sekarang nggak jadi. Yang ada malah beberapa dibakarkan," ungkap Purbaya.
"Jadi untuk subsidi gimana nature-nya? Subsidi sebetulnya, kalau bisa nggak subsidi, gak subsidi. Cuman karena ekonomi pertumbuhannya nggak cukup bagus, masyarakat yang paling bawah belum bisa bertahan ketika harus menghadapi harga pasar," terangnya.
"Dikeluarkan subsidi supaya mereka bisa hidup terus dan agak sejahteralah ke depan. Tapi kunci utamanya adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat," ungkap Purbaya.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Selasa (30/9) kemarin, Purbaya membeberkan harga keekonomian berbagai komoditas energi dan non-energi yang dikonsumsi masyarakat. Pengungkapan ini menunjukkan peran besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menanggung selisih harga agar komoditas tersebut tetap terjangkau.
Untuk Solar bersubsidi, harga keekonomiannya mencapai Rp11.950 per liter, namun dengan subsidi sebesar 43% atau Rp5.150 per liter yang ditanggung pemerintah, masyarakat hanya perlu membayar Rp6.800 per liter.
Demikian pula untuk BBM Pertalite, harga aslinya adalah Rp11.700 per liter. Namun setelah subsidi sebesar 15% atau Rp1.700 per liter dibayarkan pemerintah, harga jualnya kepada masyarakat menjadi Rp10.000 per liter.
Subsidi terbesar ditemukan pada minyak tanah, di mana nilai subsidi mencapai Rp8.650 per liter atau setara 78% dari harga aslinya Rp11.150 per liter, sehingga harga beli masyarakat hanya Rp2.500 per liter.
2. Subsidi Membengkak
Atas dasar itu, Ia meminta kepada DPR RI untuk ikut mengawasai Pertamina, supaya Indonesia bisa mengurangi subsidi. Dan dengan adanya kilang baru, Purbaya menilai harga produk BBM bisa lebih murah dan tepat sasaran."Jadi untuk subsidi gimana nature-nya? Subsidi sebetulnya, kalau bisa nggak subsidi, gak subsidi. Cuman karena ekonomi pertumbuhannya nggak cukup bagus, masyarakat yang paling bawah belum bisa bertahan ketika harus menghadapi harga pasar," terangnya.
"Dikeluarkan subsidi supaya mereka bisa hidup terus dan agak sejahteralah ke depan. Tapi kunci utamanya adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat," ungkap Purbaya.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Selasa (30/9) kemarin, Purbaya membeberkan harga keekonomian berbagai komoditas energi dan non-energi yang dikonsumsi masyarakat. Pengungkapan ini menunjukkan peran besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menanggung selisih harga agar komoditas tersebut tetap terjangkau.
Untuk Solar bersubsidi, harga keekonomiannya mencapai Rp11.950 per liter, namun dengan subsidi sebesar 43% atau Rp5.150 per liter yang ditanggung pemerintah, masyarakat hanya perlu membayar Rp6.800 per liter.
Demikian pula untuk BBM Pertalite, harga aslinya adalah Rp11.700 per liter. Namun setelah subsidi sebesar 15% atau Rp1.700 per liter dibayarkan pemerintah, harga jualnya kepada masyarakat menjadi Rp10.000 per liter.
Subsidi terbesar ditemukan pada minyak tanah, di mana nilai subsidi mencapai Rp8.650 per liter atau setara 78% dari harga aslinya Rp11.150 per liter, sehingga harga beli masyarakat hanya Rp2.500 per liter.
Lihat Juga :