Kendalikan Harga Beras Jelang Akhir Tahun 2025, Begini Jurus Bulog

Minggu, 05 Oktober 2025 - 20:25 WIB
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2025 tercatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Menariknya, beras yang biasanya menjadi penyumbang utama inflasi justru mengalami deflasi sebesar 0,13 persen, memberikan andil negatif sebesar -0,01% terhadap inflasi umum.

Penurunan harga ini dipengaruhi oleh kombinasi antara panen gadu di sejumlah sentra produksi dan intervensi pemerintah melalui SPHP. Baca Juga: Harga Pangan Menggila: Beras Makin Mahal, Cabai dan Minyak Goreng Melonjak

Program SPHP sendiri dilaksanakan secara masif melalui tujuh saluran distribusi utama, yaitu pasar tradisional, pasar ritel modern, jaringan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama TNI, Polri, serta pemerintah pusat dan daerah, outlet BUMN Pangan, jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog, dan distribusi langsung berbasis komunitas.

Sepanjang September 2025, penyaluran beras SPHP mencapai 143.866 ton, naik 59 persen dibandingkan Agustus, sekaligus menjadi rekor tertinggi selama tiga tahun terakhir. Hingga 3 Oktober 2025, total beras SPHP yang telah disalurkan BULOG mencapai 462 ribu ton atau sekitar 30% dari target nasional sebesar 1,5 juta ton.

Capaian ini menegaskan efektivitas program SPHP dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga beras di pasar serta menahan tekanan inflasi menjelang akhir tahun.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!