Cerita UMKM Binaan Pertamina Raup Rp300 Juta per Bulan dari Olahan Kelapa
Jum'at, 17 Oktober 2025 - 21:33 WIB
Pria yang akrab dipanggil Bli Sum ini menambahkan, pada 2015 itu dirinya hanya mempunyai modal uang Rp300 ribu. "Jadi di awal saya merintis 2015 itu hanya dengan modal Rp300 ribu, modal nekat dan ambisi saja," kata Sum.
Tak hanya itu, untuk mengolah dan memproduksi kelapa ini, dirinya sempat meminjam garasi mobil milik temannya.
"Saya pinjam garasi mobil milik teman. Jadi di sana emuasalnya hanya dengan bermodalkan izin SPIRT. Karena itu tidak perlu ada suatu pengecekan yang serius. Nah dari sanalah kami bertumbuh, pelan-pelan juga kami memproduksi seperti olahan kunyit, jahe merah, dan beberapa produk turunan lainnya," kata pria asli Bali itu.
Awal membangun Bali Pure, dirinya hanya memproduksi virgin coconut oil (VCO). Sayangnya, jangkauan penjualan VCO tidak terlalu luas. Meski begitu, dirinya tetap melanjutkan hingga akhirnya mulai bergabung dengan Pertamina pada 2018.
"Baru tahun 2018 ikut program Pertamina, kami dibina bagaimana untuk scale up dan go global, go nasional, go global. Dan dibantu juga dengan pendanaan," katanya.
Setahun kemudian, kata dia, sekitar 2019, dirinya mulai memutar otak untuk lebih berinovasi, salah satunya membuat rumah produksi standart Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Baru semenjak dapat bantuan dari Pertamina dan pendampingan itu, kami mulai membuat rumah produksi berstandar BPOM. Nah, karena kalau kita hanya menjual minyak VCO aja, jangkauan marketnya kurang luas. Sehingga mulai saya berpikir untuk mensuplai ke SPA, yaitu dengan membuat minyak body oil atau massage oil. Nah itu izinnya harus BPOM," terang dia.
Tak hanya itu, untuk mengolah dan memproduksi kelapa ini, dirinya sempat meminjam garasi mobil milik temannya.
"Saya pinjam garasi mobil milik teman. Jadi di sana emuasalnya hanya dengan bermodalkan izin SPIRT. Karena itu tidak perlu ada suatu pengecekan yang serius. Nah dari sanalah kami bertumbuh, pelan-pelan juga kami memproduksi seperti olahan kunyit, jahe merah, dan beberapa produk turunan lainnya," kata pria asli Bali itu.
Awal membangun Bali Pure, dirinya hanya memproduksi virgin coconut oil (VCO). Sayangnya, jangkauan penjualan VCO tidak terlalu luas. Meski begitu, dirinya tetap melanjutkan hingga akhirnya mulai bergabung dengan Pertamina pada 2018.
"Baru tahun 2018 ikut program Pertamina, kami dibina bagaimana untuk scale up dan go global, go nasional, go global. Dan dibantu juga dengan pendanaan," katanya.
Setahun kemudian, kata dia, sekitar 2019, dirinya mulai memutar otak untuk lebih berinovasi, salah satunya membuat rumah produksi standart Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Baru semenjak dapat bantuan dari Pertamina dan pendampingan itu, kami mulai membuat rumah produksi berstandar BPOM. Nah, karena kalau kita hanya menjual minyak VCO aja, jangkauan marketnya kurang luas. Sehingga mulai saya berpikir untuk mensuplai ke SPA, yaitu dengan membuat minyak body oil atau massage oil. Nah itu izinnya harus BPOM," terang dia.
Lihat Juga :