SIG Tegaskan Komitmen Membangun Ekosistem Tambang Ramah Lingkungan
Senin, 20 Oktober 2025 - 20:08 WIB
Melalui sistem ini, seluruh aktivitas pertambangan dapat dipantau secara real-time. Teknologi tersebut membantu perusahaan melacak pergerakan kendaraan berat melalui GPS, mendeteksi potensi longsor secara dini, serta mencatat data operasional secara terintegrasi untuk mendukung efisiensi dan keselamatan kerja.
Sepanjang 2024, SBA mampu mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 41.000 liter dan menekan penggunaan bahan peledak sebesar 70.000 kilogram. Pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja, perusahaan berhasil mencatatkan zero fatality, zero accident, dan zero medical injury—sebuah capaian penting dalam industri pertambangan yang penuh risiko.
Konsistensi SBA dalam menerapkan praktik tambang hijau juga tampak melalui berbagai program sosial dan lingkungan. Setiap tahun, perusahaan menggelar Quarry Day, ajang kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, insan pers, serta pelaku UMKM binaan. Program ini memadukan tiga aspek utama, yaitu pendidikan (education), lingkungan (environmental), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment).
Hingga pertengahan 2025, SBA telah mereklamasi sekitar 32,43 hektare lahan pascatambang batu kapur dan tanah liat. Lebih dari 13.400 batang pohon ditanam untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan tersebut, diikuti dengan penanaman 4.950 batang mangrove di pesisir Sungai Krueng Raba, Desa Lampaya, Lhoknga. Kegiatan ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga memperkuat perlindungan terhadap abrasi dan mendukung keanekaragaman hayati lokal.
Masyarakat sekitar tambang turut dilibatkan dalam proses pembibitan dan penanaman pohon. Model partisipatif ini menjadikan reklamasi pascatambang sebagai ruang kolaborasi yang memberi nilai ekonomi baru bagi warga, sekaligus memperkuat hubungan sosial antara perusahaan dan komunitas.
Sepanjang 2024, SBA mampu mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 41.000 liter dan menekan penggunaan bahan peledak sebesar 70.000 kilogram. Pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja, perusahaan berhasil mencatatkan zero fatality, zero accident, dan zero medical injury—sebuah capaian penting dalam industri pertambangan yang penuh risiko.
Konsistensi SBA dalam menerapkan praktik tambang hijau juga tampak melalui berbagai program sosial dan lingkungan. Setiap tahun, perusahaan menggelar Quarry Day, ajang kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, insan pers, serta pelaku UMKM binaan. Program ini memadukan tiga aspek utama, yaitu pendidikan (education), lingkungan (environmental), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment).
Hingga pertengahan 2025, SBA telah mereklamasi sekitar 32,43 hektare lahan pascatambang batu kapur dan tanah liat. Lebih dari 13.400 batang pohon ditanam untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan tersebut, diikuti dengan penanaman 4.950 batang mangrove di pesisir Sungai Krueng Raba, Desa Lampaya, Lhoknga. Kegiatan ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga memperkuat perlindungan terhadap abrasi dan mendukung keanekaragaman hayati lokal.
Masyarakat sekitar tambang turut dilibatkan dalam proses pembibitan dan penanaman pohon. Model partisipatif ini menjadikan reklamasi pascatambang sebagai ruang kolaborasi yang memberi nilai ekonomi baru bagi warga, sekaligus memperkuat hubungan sosial antara perusahaan dan komunitas.
Lihat Juga :