Rupiah Hari Ini Berakhir Ambles ke Rp16.629 per Dolar AS, Intip Biang Keroknya

Kamis, 23 Oktober 2025 - 17:58 WIB
Adapun Inggris menjatuhkan sanksi kepada Rosneft dan Lukoil minggu lalu. Secara terpisah, negara-negara Uni Eropa juga menyetujui paket sanksi ke-19 terhadap Moskow, termasuk larangan impor gas alam cair Rusia dan pencantuman puluhan kapal tanker lainnya dalam "armada bayangan"-nya.

Kemudian, penutupan pemerintah AS memasuki hari ke-22 pada hari Rabu, menandai hari terpanjang kedua dalam sejarah, dengan negosiasi antara Gedung Putih dan Kongres masih menemui jalan buntu. Presiden Trump menegaskan kembali bahwa Partai Republik "tidak akan diperas," karena diskusi mengenai kesepakatan pendanaan masih mandek.

Sementara itu pasar saat ini memperkirakan penurunan suku bunga 25 basis point oleh The Fed sebagai sesuatu yang hampir pasti pada pertemuan kebijakan moneternya pada 29-30 Oktober, meskipun data inflasi masih dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed ke depannya.

Data ekonomi AS minggu ini cukup ringan, dengan fokus pada Indeks Harga Konsumen (IHK) hari dan pembacaan awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P untuk bulan Oktober yang akan dirilis hari Jumat.

Dari sentimen domestik, pasar merespon negatif terhadap pernyataan Bank Indonesia bahwa aliran modal asing yang terus keluar dari Indonesia membuat pihaknya terus mengandalkan cadangan devisa (cadev). Sebab tekanan terhadap aliran modal asing itu turut mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!