Harga Terus Bersinar, Tak Ada Tanda Kilau Emas Meredup
Minggu, 26 Oktober 2025 - 13:15 WIB
Di pasar domestik, imbas kenaikan ini turut terasa. Ibrahim memperkirakan harga emas dalam negeri berpotensi bergerak di kisaran Rp2.390.000 hingga Rp2.400.000 per gram, dengan peluang penguatan lanjutan pada November mendatang.
Salah satu pendorong utama optimisme ini adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve. Sinyal-sinyal dovish dari sejumlah gubernur The Fed menguatkan peluang tersebut. "Mereka mengindikasikan bahwa kemungkinan Bank Sentral Amerika akan kembali menurunkan suku bunga. Itu dilihat dari data inflasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Ekspetasinya adalah 3,1 persen tetapi kenyataannya 3 persen," ujarnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan depan. "Sebenarnya pelaku pasar sudah tahu bahwa Bank Sentral akan menurunkan suku bunga 25 basis point, tetapi yang diinginkan oleh pasar itu adalah pernyataan dari Bank Sentral tentang ke depan, di bulan November-Desember, apakah akan kembali menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga," tambahnya.
Selain faktor moneter, gejolak politik domestik Amerika Serikat turut menambah daya tarik emas sebagai safe-haven. Pemerintahan federal AS hingga akhir pekan masih mengalami shutdown yang telah berlangsung lebih dari 24 hari. "Artinya, kemungkinan libur pemerintahan federal akan cukup lama, dan Trump ogah untuk melakukan mediasi dengan Partai Demokrat," ujar Ibrahim.
Ketegangan geopolitik juga kembali memanas. Eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang ditandai serangan sporadis di wilayah Donetsk dan Dombas menciptakan kekhawatiran baru. Situasi ini mendorong bank-bank sentral global kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai.
Salah satu pendorong utama optimisme ini adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve. Sinyal-sinyal dovish dari sejumlah gubernur The Fed menguatkan peluang tersebut. "Mereka mengindikasikan bahwa kemungkinan Bank Sentral Amerika akan kembali menurunkan suku bunga. Itu dilihat dari data inflasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Ekspetasinya adalah 3,1 persen tetapi kenyataannya 3 persen," ujarnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan depan. "Sebenarnya pelaku pasar sudah tahu bahwa Bank Sentral akan menurunkan suku bunga 25 basis point, tetapi yang diinginkan oleh pasar itu adalah pernyataan dari Bank Sentral tentang ke depan, di bulan November-Desember, apakah akan kembali menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga," tambahnya.
Selain faktor moneter, gejolak politik domestik Amerika Serikat turut menambah daya tarik emas sebagai safe-haven. Pemerintahan federal AS hingga akhir pekan masih mengalami shutdown yang telah berlangsung lebih dari 24 hari. "Artinya, kemungkinan libur pemerintahan federal akan cukup lama, dan Trump ogah untuk melakukan mediasi dengan Partai Demokrat," ujar Ibrahim.
Ketegangan geopolitik juga kembali memanas. Eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang ditandai serangan sporadis di wilayah Donetsk dan Dombas menciptakan kekhawatiran baru. Situasi ini mendorong bank-bank sentral global kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai.
Lihat Juga :