Digebuk Sanksi Baru AS, Kilang-kilang China Mulai Jauhi Minyak Rusia

Selasa, 04 November 2025 - 07:35 WIB
Salah satu jenis minyak yang paling terdampak adalah ESPO, yang selama ini menjadi favorit di pasar Asia karena kualitasnya tinggi dan biaya pengiriman relatif rendah. Akibat boikot ini, harga minyak ESPO anjlok tajam. Konsultan Rystad Energy AS memperkirakan sekitar 400.000 barel per hari atau 45% dari total impor minyak Rusia ke China terdampak langsung oleh keputusan penghentian pembelian.

China selama dua tahun terakhir menjadi pasar utama bagi minyak Rusia. Harga yang lebih murah akibat sanksi Barat membuat impor dari Moskow meningkat pesat, hingga menjadikan Rusia pemasok terbesar bagi negeri Tirai Bambu. Namun, gelombang sanksi baru dari AS dan sekutunya kini mempersempit ruang gerak perdagangan tersebut.

Langkah tersebut bertujuan menekan pendapatan ekspor energi Rusia agar kemampuan Moskow membiayai perang di Ukraina semakin terbatas. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington juga memperluas daftar perusahaan yang dilarang melakukan transaksi dengan sektor energi Rusia.

Sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, kebijakan baru ini menimbulkan dampak lanjutan bagi China. Pengurangan pasokan dari Rusia diperkirakan akan membuka peluang bagi negara pemasok lain, termasuk Amerika Serikat, yang baru saja menandatangani kesepakatan dagang dengan Beijing usai pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pekan lalu.

Meski demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya merugikan Rusia. Kilang Yulong yang kini terkena sanksi justru semakin bergantung pada minyak Rusia karena aksesnya terhadap pemasok Barat tertutup.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!