5 Negara Pemilik Mineral Paling Krusial di Dunia, Kunci Masa Depan Energi dan Teknologi

Selasa, 04 November 2025 - 17:10 WIB
Penurunan harga yang signifikan tersebut dilatari oleh dua isu utama. Pertama, karena produksi kobalt yang masif dari Kongo. Kedua, terkait dengan tren substitusi penggunaan kobalt di baterai mobil listrik, sehingga menyebabkan kebutuhan kobalt menjadi menurun.

4. Brasil

Brasil memiliki cadangan besar baik untuk tanah jarang maupun lithium, dan menempati peringkat kedua di dunia sebagai penguaran mineral tanah jarang. Kekayaan mineral Brasil masih belum dimanfaatkan dibandingkan dengan pesaing teratas, yang menunjukkan bahwa negara ini mungkin menjadi lebih sentral seiring peluncuran proyek-proyek baru.

Produksi lithium di Brasil telah lepas landas dalam beberapa tahun terakhir, melambungkannya ke dalam daftar negara-negara penghasil lithium teratas. Setelah mencapai output 400 MT atau kurang dari 2011 hingga 2018, produksi negara ini mencapai 2.400 MT pada tahun 2019.

Namun, produksi lithium Brazil telah berkurang dalam dua tahun terakhir akibat Covid-19. Pemerintah Brasil berencana untuk menginvestasikan lebih dari USD2,1 miliar pada tahun 2030 untuk memperluas produksi lithium negara itu dan kapasitasnya. Produksi baru diharapkan datang dari perusahaan seperti Sigma Resources dan AMG Critical Materials Norwegia.

5. Rusia

Rusia menempati peringkat teratas untuk nikel, palladium, dan logam tanah jarang, dengan raksasa pertambangan yang didukung negara dan ekspor utama ke pasar Asia. Cadangan besar ini memastikan Rusia tetap menjadi pesaing global dalam mineral krusial untuk baterai dan teknologi, meskipun terdampak sanksi internasional.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!