Cari Modal Bangun Pembangkit Listrik JSKY Lakukan Right Issue
Selasa, 15 September 2020 - 19:03 WIB
Adapun agenda RUPSLB di antaranya rapat persetujuan pembatalan right issues tahap pertama yang sebelumnya sudah disetujui RUPSLB pada 25 Juli 2019 karena telah melewati batas waktu berlaku 12 bulan dari tanggal persetujuan, rapat untuk memperoleh kembali persetujuan RUPSLB untuk melaksanakan penawaran umum terbatas atau right issues tahap 2, dan rapat perubahan susunan dewan direksi dan dewan komisaris perseroan. Dalam RUPSLB ini direksi perseroan akan meminta persetujuan dari para pemegang saham untuk melakukan aksi korporasi
Dengan penawaran ini JSKY menargetkan akan mendapatkan tambahan modal sekitar Rp99,59 miliar. Rencana JSKY seluruh dana yang terhimpun dari right issues ini akan digunakan untuk penambahan modal kerja perseroan setelah dikurangi biaya-biaya emisi.
"Penambahan modal akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan," ujar Firsky Kurniawan, Sekretaris JSKY, Selasa (15/9/2020).
Selain memproduksi dan memasarkan panel surya (solar cell) untuk pasar dalam negeri dan ekspor, JSKY pada tahun ini juga mengerjakan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di berbagai daerah. Diantaranya, kontrak proyek PLTS di Merauke, Papua, dan Sorong, Papua Barat, dengan nilai Rp500 miliar.
(Baca Juga: Tarik Investor, Tarif Listrik EBT Akan Dibuat Lebih Menarik)
Dengan penawaran ini JSKY menargetkan akan mendapatkan tambahan modal sekitar Rp99,59 miliar. Rencana JSKY seluruh dana yang terhimpun dari right issues ini akan digunakan untuk penambahan modal kerja perseroan setelah dikurangi biaya-biaya emisi.
"Penambahan modal akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan," ujar Firsky Kurniawan, Sekretaris JSKY, Selasa (15/9/2020).
Selain memproduksi dan memasarkan panel surya (solar cell) untuk pasar dalam negeri dan ekspor, JSKY pada tahun ini juga mengerjakan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di berbagai daerah. Diantaranya, kontrak proyek PLTS di Merauke, Papua, dan Sorong, Papua Barat, dengan nilai Rp500 miliar.
(Baca Juga: Tarik Investor, Tarif Listrik EBT Akan Dibuat Lebih Menarik)
Lihat Juga :