2026, Akankah Menjadi Tahun Runtuhnya Dominasi Dolar AS?
Jum'at, 02 Januari 2026 - 07:53 WIB
China menjadi salah satu contoh paling menonjol. Lebih dari separuh perdagangan negara itu kini disalurkan melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran lintas batas milik Beijing, alih-alih SWIFT yang lama didominasi bank-bank Barat. Sejumlah negara lain, termasuk Brasil–Argentina, UEA–India, serta Indonesia–Malaysia, juga mulai menguji penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal.
Perubahan juga tercermin dalam komposisi cadangan devisa global. Jika pada 1999 dolar AS menyumbang 72% cadangan devisa dunia, porsinya kini turun menjadi 58% dan terus menyusut. Pergeseran ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap keamanan dolar faktor kunci statusnya sebagai mata uang cadangan mulai berubah.
Tekanan terhadap dolar diperkuat oleh membengkaknya defisit fiskal AS yang diproyeksikan mencapai USD1,9 triliun pada 2025, serta defisit transaksi berjalan sekitar 6% dari PDB. Praktik pembiayaan belanja negara melalui pencetakan uang yang selama ini tertahan oleh "hak istimewa berlebihan" dolar kini justru memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan kepercayaan global.
Bahkan pasar obligasi pemerintah AS (US Treasury), yang selama ini dianggap paling likuid dan aman, menunjukkan tanda-tanda kerentanan. Dengan lebih dari USD27 triliun obligasi Treasury beredar, kapasitas lembaga keuangan besar seperti JPMorgan, Citi, dan Goldman Sachs sebagai dealer utama tidak berkembang sebanding. Ketergantungan pada intervensi The Fed, seperti terlihat pada gejolak Maret 2020, menjadi sinyal bahwa fondasi likuiditas pun tidak sepenuhnya kebal.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Ibu Kota Rusia saat Putin Pidato Tahun Baru
Perubahan juga tercermin dalam komposisi cadangan devisa global. Jika pada 1999 dolar AS menyumbang 72% cadangan devisa dunia, porsinya kini turun menjadi 58% dan terus menyusut. Pergeseran ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap keamanan dolar faktor kunci statusnya sebagai mata uang cadangan mulai berubah.
Tekanan terhadap dolar diperkuat oleh membengkaknya defisit fiskal AS yang diproyeksikan mencapai USD1,9 triliun pada 2025, serta defisit transaksi berjalan sekitar 6% dari PDB. Praktik pembiayaan belanja negara melalui pencetakan uang yang selama ini tertahan oleh "hak istimewa berlebihan" dolar kini justru memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan kepercayaan global.
Bahkan pasar obligasi pemerintah AS (US Treasury), yang selama ini dianggap paling likuid dan aman, menunjukkan tanda-tanda kerentanan. Dengan lebih dari USD27 triliun obligasi Treasury beredar, kapasitas lembaga keuangan besar seperti JPMorgan, Citi, dan Goldman Sachs sebagai dealer utama tidak berkembang sebanding. Ketergantungan pada intervensi The Fed, seperti terlihat pada gejolak Maret 2020, menjadi sinyal bahwa fondasi likuiditas pun tidak sepenuhnya kebal.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Ibu Kota Rusia saat Putin Pidato Tahun Baru
Lihat Juga :