70% Modal Asing, Proyek Hilirisasi Sepanjang 2025 Tarik Investasi Rp581 Triliun
Kamis, 15 Januari 2026 - 15:52 WIB
Sementara itu sektor perikanan dan kelautan membukukan investasi Rp6,4 triliun, mencakup pengolahan komoditas seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, tilapia, hingga garam. Baca Juga: Prabowo Bertemu Rosan di Hambalang, Bahas Hilirisasi Senilai Rp100 Triliun
Dari sisi sumber pendanaan, investasi hilirisasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) dengan porsi 73,5% atau Rp429,6 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi 26,5% atau Rp154,5 triliun. Hal ini menunjukkan besarnya minat investor global terhadap proyek-proyek hilirisasi, khususnya di sektor mineral dan energi.
Untuk negara asal PMA, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai USD7,9 miliar, diikuti Hong Kong (RRT) USD6,2 miliar, China USD4,8 miliar, Malaysia USD3,0 miliar, dan Amerika Serikat USD1,6 miliar. Masuknya investor dari Asia Timur dan Asia Tenggara menegaskan kuatnya integrasi rantai pasok industri pengolahan Indonesia dengan pasar regional dan global.
Rosan memaparkan, dari sisi wilayah, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Realisasi di luar Jawa mencapai Rp415,4 triliun atau 71,1%, sedangkan Pulau Jawa menyumbang Rp168,7 triliun atau 28,9%. Tingginya porsi luar Jawa mencerminkan kuatnya arus investasi di kawasan berbasis sumber daya alam, terutama di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.
Sementara untuk lokasi lima besar daerah tujuan investasi hilirisasi sepanjang 2025 didominasi kawasan industri berbasis mineral. Sulawesi Tengah menempati peringkat pertama dengan Rp110,0 triliun, disusul Maluku Utara Rp74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp41,3 triliun, dan Jawa Timur Rp36,7 triliun. Dominasi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara tidak terlepas dari masifnya pembangunan smelter dan industri pengolahan nikel.
Dari sisi sumber pendanaan, investasi hilirisasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) dengan porsi 73,5% atau Rp429,6 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi 26,5% atau Rp154,5 triliun. Hal ini menunjukkan besarnya minat investor global terhadap proyek-proyek hilirisasi, khususnya di sektor mineral dan energi.
Untuk negara asal PMA, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai USD7,9 miliar, diikuti Hong Kong (RRT) USD6,2 miliar, China USD4,8 miliar, Malaysia USD3,0 miliar, dan Amerika Serikat USD1,6 miliar. Masuknya investor dari Asia Timur dan Asia Tenggara menegaskan kuatnya integrasi rantai pasok industri pengolahan Indonesia dengan pasar regional dan global.
Rosan memaparkan, dari sisi wilayah, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Realisasi di luar Jawa mencapai Rp415,4 triliun atau 71,1%, sedangkan Pulau Jawa menyumbang Rp168,7 triliun atau 28,9%. Tingginya porsi luar Jawa mencerminkan kuatnya arus investasi di kawasan berbasis sumber daya alam, terutama di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.
Sementara untuk lokasi lima besar daerah tujuan investasi hilirisasi sepanjang 2025 didominasi kawasan industri berbasis mineral. Sulawesi Tengah menempati peringkat pertama dengan Rp110,0 triliun, disusul Maluku Utara Rp74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp41,3 triliun, dan Jawa Timur Rp36,7 triliun. Dominasi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara tidak terlepas dari masifnya pembangunan smelter dan industri pengolahan nikel.
(akr)
Lihat Juga :