Blok Masela Jadi Solusi, Purbaya Dorong Gas Murah buat Industri
Selasa, 24 Februari 2026 - 21:30 WIB
Menanggapi pertanyaan Menkeu, Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco mengungkapkan bahwa memperkirakan kisaran harga keekonomian sangatlah sulit mengingat biaya investasi pembangunan Kilang LNG yang terus membengkak setiap tahunnya.
Blok Masela mempunyai nilai investasi mencapai USD21 miliar (sekitar Rp352 triliun) dengan kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa dan memiliki potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.
Harrad Blinco mengakui bahwa secara internasional, tingkat keuntungan proyek ini berada pada level yang sangat tipis. "Itu marginal. Sangat marginal secara internasional. Ini adalah kekhawatiran terbesar kami dan risiko terbesar kami dalam proyek ini," ungkap Harrad Blinco.
Selain kompleksitas teknis seperti pengeboran laut dalam (deepwater) dan penerapan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS), proyek ini diharapkan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja dan beroperasi hingga tahun 2055.
Pemerintah kini tengah mencari titik keseimbangan agar proyek tetap layak secara bisnis bagi investor, namun tetap mampu menyediakan energi murah bagi kemajuan industri di Indonesia.
Blok Masela mempunyai nilai investasi mencapai USD21 miliar (sekitar Rp352 triliun) dengan kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa dan memiliki potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.
Harrad Blinco mengakui bahwa secara internasional, tingkat keuntungan proyek ini berada pada level yang sangat tipis. "Itu marginal. Sangat marginal secara internasional. Ini adalah kekhawatiran terbesar kami dan risiko terbesar kami dalam proyek ini," ungkap Harrad Blinco.
Selain kompleksitas teknis seperti pengeboran laut dalam (deepwater) dan penerapan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS), proyek ini diharapkan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja dan beroperasi hingga tahun 2055.
Pemerintah kini tengah mencari titik keseimbangan agar proyek tetap layak secara bisnis bagi investor, namun tetap mampu menyediakan energi murah bagi kemajuan industri di Indonesia.
(akr)