Rusia Peringatkan Krisis Energi Bakal Hantui Dunia Berbulan-bulan, Gencatan Senjata Belum Cukup?
Kamis, 09 April 2026 - 13:40 WIB
Peringatan senada datang dari industri penerbangan global. Para petinggi maskapai di Asia dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperingatkan bahwa harga bahan bakar jet (avtur) tidak akan stabil dalam waktu dekat.
Direktur jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Willie Walsh mencatat bahwa jika Selat Hormuz “dibuka kembali dan terbuka, tetap butuh beberapa bulan untuk kembali ke tingkat pasokan yang dibutuhkan, mengingat terganggunya kapasitas penyulingan di Timur Tengah.”
Perang AS-Israel terhadap Iran telah menimbulkan kerusakan permanen pada infrastruktur energi dengan beberapa kilang yang hancur, menyebabkan harga bahan bakar jet lebih mahal dua kali lipat sejak perang dimulai. CEO Thai Airways Chai Eamsiri menyebut guncangan saat ini sebagai yang terburuk dalam hampir empat dekade kariernya.
Menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO), sekitar 20.000 pelaut tertahan di atas kapal dengan kondisi pasokan logistik yang kian menipis serta tekanan psikologis yang berat. Para pelaku pasar kini memantau dengan cemas kapal mana yang akan berani melintasi selat di bawah kesepakatan gencatan senjata yang masih sangat rapuh.
Baca Juga: Prabowo Pastikan Indonesia Siap Hadapi Krisis Energi
Direktur jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Willie Walsh mencatat bahwa jika Selat Hormuz “dibuka kembali dan terbuka, tetap butuh beberapa bulan untuk kembali ke tingkat pasokan yang dibutuhkan, mengingat terganggunya kapasitas penyulingan di Timur Tengah.”
Perang AS-Israel terhadap Iran telah menimbulkan kerusakan permanen pada infrastruktur energi dengan beberapa kilang yang hancur, menyebabkan harga bahan bakar jet lebih mahal dua kali lipat sejak perang dimulai. CEO Thai Airways Chai Eamsiri menyebut guncangan saat ini sebagai yang terburuk dalam hampir empat dekade kariernya.
Nasib 800 Kapal dan 20.000 Pelaut Terjebak di Teluk Persia
Hingga saat ini lebih dari 800 kapal tanker dan kargo masih terjebak di dalam Teluk Persia. Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu telah menciptakan krisis logistik yang masif.Menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO), sekitar 20.000 pelaut tertahan di atas kapal dengan kondisi pasokan logistik yang kian menipis serta tekanan psikologis yang berat. Para pelaku pasar kini memantau dengan cemas kapal mana yang akan berani melintasi selat di bawah kesepakatan gencatan senjata yang masih sangat rapuh.
Baca Juga: Prabowo Pastikan Indonesia Siap Hadapi Krisis Energi
Lihat Juga :