Tagihan Kerusakan Perang AS-Iran Tembus Rp987 Triliun, 5 Negara Arab Dituntut Ganti Rugi

Jum'at, 17 April 2026 - 08:30 WIB
"Pekerjaan perbaikan ini tidak menciptakan kapasitas baru. Ia justru menyedot kapasitas yang ada, yang dampaknya akan terasa pada penundaan proyek dan kenaikan inflasi jauh di luar wilayah Timur Tengah," tegas analis senior Rystad, Karan Satwani.

Disebutkan juga olehnya bahwa rata-rata pengeluaran untuk perbaikan ada dikisaran USD46 miliar, dengan aset hilir pengolahan dan petrokimia menyumbang sebagian terbesar karena skala dan kompleksitas kerusakannya. Fasilitas industri, listrik, dan desalinasi bisa menambah biaya pemulihan sebesar USD3 miliar hingga USD8 miliar, dengan jadwal pemulihan yang berbeda-beda antar aset dan negara karena perbedaan kapasitas pelaksanaan dan kendala rantai pasokan.

Iran menghadapi kerusakan paling luas, dengan potensi biaya perbaikan yang harus dikeluarkan mencapai USD19 miliar di seluruh infrastruktur pengolahan gas, kilang, dan ekspor. Sementara itu dampak di Qatar diperkirakan kerusakan terkonsentrasi di pusat LNG Ras Laffan. Perbaikan di sini dianggap sangat kompleks karena bersamaan dengan proyek ekspansi kapasitas yang sedang berjalan.

Iran Tuntut Ganti Rugi dari 5 Negara Arab

Di tengah puing kehancuran, ketegangan diplomatik baru muncul. Utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani menyatakan, bahwa Teheran berencana menuntut kompensasi dari lima negara tetangga yakni Bahrain, Yordania, Qatar, UEA, dan Arab Saudi.

Teheran menuduh kelima negara arab tersebut sebagai "rekan" dalam serangan AS dan Israel. "Negara-negara tersebut telah melanggar kewajiban mereka terhadap Iran," ujar Iravani. Langkah ini berpotensi memicu keretakan baru dalam hubungan regional di Timur Tengah pasca-perang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!