Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Gejolak Harga Minyak Berlanjut
Sabtu, 18 April 2026 - 19:28 WIB
Baca Juga: Tuding AS Melakukan Pembajakan, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
Ketegangan diplomatik ini kian meruncing setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan keras bahwa pembukaan selat tidak akan bersifat permanen jika AS tetap melanjutkan tekanan ekonomi melalui blokade maritim. Iran sebelumnya juga telah memberlakukan pembatasan ketat, termasuk pelarangan melintas bagi kapal militer asing dan pembatasan lalu lintas maksimal 15 kapal komersial per hari.
Militer Iran menyebut bahwa tindakan penutupan kembali ini merupakan konsekuensi langsung dari kegagalan Washington dalam menjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang menuju atau berasal dari Iran. Sejak konflik pecah pada Februari lalu, Selat Hormuz menjadi titik panas militer yang melumpuhkan distribusi energi dunia.
Para pelaku pasar dan analis energi memperkirakan harga minyak akan kembali mendidih pada pembukaan perdagangan pekan depan. Ketidakpastian di jalur laut paling strategis di dunia ini diprediksi akan terus menekan stabilitas ekonomi global selama ketegangan antara Teheran dan Washington belum menemukan titik temu diplomasi.
Ketegangan diplomatik ini kian meruncing setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan keras bahwa pembukaan selat tidak akan bersifat permanen jika AS tetap melanjutkan tekanan ekonomi melalui blokade maritim. Iran sebelumnya juga telah memberlakukan pembatasan ketat, termasuk pelarangan melintas bagi kapal militer asing dan pembatasan lalu lintas maksimal 15 kapal komersial per hari.
Militer Iran menyebut bahwa tindakan penutupan kembali ini merupakan konsekuensi langsung dari kegagalan Washington dalam menjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang menuju atau berasal dari Iran. Sejak konflik pecah pada Februari lalu, Selat Hormuz menjadi titik panas militer yang melumpuhkan distribusi energi dunia.
Para pelaku pasar dan analis energi memperkirakan harga minyak akan kembali mendidih pada pembukaan perdagangan pekan depan. Ketidakpastian di jalur laut paling strategis di dunia ini diprediksi akan terus menekan stabilitas ekonomi global selama ketegangan antara Teheran dan Washington belum menemukan titik temu diplomasi.
(nng)
Lihat Juga :