Korporasi Perlu Perkuat Tata Kelola Antisipasi Risiko Sistem AI
Senin, 18 Mei 2026 - 14:08 WIB
Di tengah meningkatnya adopsi AI di sektor keuangan, layanan pelanggan, hingga layanan publik, ancaman keamanan siber masih menjadi persoalan berkelanjutan. Tingginya anomali lalu lintas digital, upaya serangan siber, serta kasus kebocoran data menunjukkan kompleksitas risiko yang dihadapi institusi publik maupun swasta.
Para pakar juga mencatat peningkatan penggunaan AI untuk mengotomatisasi serangan siber, yang membuat serangan menjadi lebih cepat dan sulit dideteksi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru mengenai kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kontrol terhadap sistem yang dirancang untuk bekerja secara mandiri.
Baca Juga: China Siapkan Kerangka Hukum untuk Mengatur Kecerdasan Buatan
Secara global, berbagai insiden siber berbasis AI serta munculnya panduan keamanan baru menandakan risiko ini semakin mendapat perhatian serius. Namun, di Indonesia dan Asia Tenggara, laju adopsi AI dinilai masih melampaui kesiapan tata kelola, sehingga menciptakan kesenjangan implementasi atau deployment gap.
Laporan tersebut merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain penetapan akses sistem yang jelas, peningkatan pemantauan aktivitas AI, pembatasan tindakan berisiko tinggi, serta penguatan akuntabilitas dalam penggunaan teknologi, guna memastikan keberlanjutan dan keamanan operasional perusahaan.
Para pakar juga mencatat peningkatan penggunaan AI untuk mengotomatisasi serangan siber, yang membuat serangan menjadi lebih cepat dan sulit dideteksi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru mengenai kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kontrol terhadap sistem yang dirancang untuk bekerja secara mandiri.
Baca Juga: China Siapkan Kerangka Hukum untuk Mengatur Kecerdasan Buatan
Secara global, berbagai insiden siber berbasis AI serta munculnya panduan keamanan baru menandakan risiko ini semakin mendapat perhatian serius. Namun, di Indonesia dan Asia Tenggara, laju adopsi AI dinilai masih melampaui kesiapan tata kelola, sehingga menciptakan kesenjangan implementasi atau deployment gap.
Laporan tersebut merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain penetapan akses sistem yang jelas, peningkatan pemantauan aktivitas AI, pembatasan tindakan berisiko tinggi, serta penguatan akuntabilitas dalam penggunaan teknologi, guna memastikan keberlanjutan dan keamanan operasional perusahaan.
(nng)
Lihat Juga :