Ada Ketelitian dan Konsistensi di Balik Rasa Teh Berkualitas
Rabu, 20 Mei 2026 - 22:17 WIB
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan. Perkebunan di dataran tinggi dengan suhu lebih sejuk umumnya menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat dan menghasilkan karakter dengan aroma yang lebih khas dan wangi.
“Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” kata Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, Devyana Tarigan.
Kabut di kawasan pegunungan juga membantu menyaring paparan sinar matahari langsung, sehingga tanaman dapat berkembang lebih optimal tanpa menghasilkan sensasi yang terlalu tajam saat diminum.
Pemahaman terhadap proses alami tersebut menjadi salah satu fondasi yang harus dijaga para produsen teh yang memiliki perkebunan sendiri seperti Sosro. Sebagai perusahaan teh siap saji dan teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan dunia, Sosro menjaga standar bahan baku teh tetap konsisten, mulai dari perkebunan.
Baca Juga: PTPN IV Pastikan Kebun Teh di Simalungun Tak Akan Dikonversi
Pemilihan kebun teh di sejumlah wilayah dataran tinggi Jawa Barat, mulai dari Cukul di Pangalengan, Neglasari di Garut, Gunung Satria dan Sambawa di Tasikmalaya, hingga Gunung Manik, Gunung Rosa Djaya, dan Gunung Cempaka di Cianjur dilakukan karena wilayah tersebut memiliki suhu sejuk, serta kelembaban yang mendukung pertumbuhan daun teh muda yang berkualitas.
“Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” kata Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, Devyana Tarigan.
Kabut di kawasan pegunungan juga membantu menyaring paparan sinar matahari langsung, sehingga tanaman dapat berkembang lebih optimal tanpa menghasilkan sensasi yang terlalu tajam saat diminum.
Pemahaman terhadap proses alami tersebut menjadi salah satu fondasi yang harus dijaga para produsen teh yang memiliki perkebunan sendiri seperti Sosro. Sebagai perusahaan teh siap saji dan teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan dunia, Sosro menjaga standar bahan baku teh tetap konsisten, mulai dari perkebunan.
Baca Juga: PTPN IV Pastikan Kebun Teh di Simalungun Tak Akan Dikonversi
Pemilihan kebun teh di sejumlah wilayah dataran tinggi Jawa Barat, mulai dari Cukul di Pangalengan, Neglasari di Garut, Gunung Satria dan Sambawa di Tasikmalaya, hingga Gunung Manik, Gunung Rosa Djaya, dan Gunung Cempaka di Cianjur dilakukan karena wilayah tersebut memiliki suhu sejuk, serta kelembaban yang mendukung pertumbuhan daun teh muda yang berkualitas.
Lihat Juga :