Ambruk Makin Parah, Rupiah Sore Ini Sentuh Rp17.795 per Dolar AS

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:15 WIB
Aksi militer baru ini sebagian besar mengimbangi sejumlah laporan sebelumnya yang menyatakan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak turun tajam pada hari Senin setelah laporan-laporan ini, meskipun kurangnya kejelasan di lapangan membatasi penurunan harga minyak mentah.

Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mengisyaratkan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, dan mengklaim bahwa republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Iran sebagian besar membantah rencana untuk melepaskan uraniumnya, meskipun laporan menunjukkan negara tersebut terbuka untuk negosiasi lebih lanjut mengenai aktivitas nuklirnya.

Dari sentimen domestik, krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi sudah mulai nampak didepan mata akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang belum jelas sampai kapan pelemahan ini akan terjadi, dan berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Lonjakan PHK terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional. Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan.

Sebagai informasi, penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, yang menyebabkan sekitar 350 pekerja terkena PHK. Kondisi tersebut dipengaruhi tekanan biaya impor dan melemahnya pasar ekspor.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!