Dolar AS Mulai Dikepung, Mampukah BRICS Meruntuhkan Dominasi Greenback?

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:06 WIB
Didorong oleh keinginan untuk kedaulatan ekonomi yang lebih besar, pengaruh geopolitik yang meningkat, dan pengurangan ketergantungan pada sistem yang dikendalikan Barat, negara-negara BRICS kini mencari alternatif untuk perdagangan dan keuangan berbasis dolar.

Meski ada langkah-langkah strategis menuju de-dolarisasi, satu pertanyaan tetap ada: bisakah negara-negara BRICS secara realistis menggulingkan dolar. Apakah ambisi BRICS ini realistis, ataukah runtuhnya kedigdayaan Dolar AS hanya sekadar komoditas politik yang utopis?

Di Balik Layar BRICS Nekat Buang Dolar

Dorongan untuk lepas dari jerat Dolar AS, nyatanya bukan sekadar urusan gengsi politik, melainkan strategi bertahan hidup. Bagi negara-negara seperti China dan Rusia, dominasi finansial Barat dianggap sebagai senjata geopolitik yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk mencekik ekonomi mereka melalui sanksi sepihak.

Baca Juga: Akhir Petrodolar, UEA Ancam Tinggalkan Dolar AS demi Yuan China



Secara psikologis, ketakutan serupa juga melanda negara-negara berkembang. Ketika bank sentral AS (The Fed) mengubah kebijakan suku bunganya, efek dominonya langsung memicu inflasi hebat, lonjakan utang, dan ketidakstabilan ekonomi di pasar domestik negara lain.

Menariknya tren ini semakin dipanaskan oleh kebangkitan aset kripto seperti Bitcoin. Sifatnya yang terdesentralisasi dan bebas dari kontrol pemerintah mana pun menjadikannya alternatif yang sangat menggiurkan bagi negara-negara yang ingin mengamankan aset mereka dari jangkauan sanksi pembekuan dana oleh Blok Barat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!