Rupiah Kian Merana, Dolar AS Tembus Rp17.880 Sore Ini
Jum'at, 29 Mei 2026 - 15:53 WIB
Data ekonomi AS juga menunjukkan perlambatan pertumbuhan, dengan produk domestik bruto hanya tumbuh 1,6% pada kuartal I 2026. Sementara itu, klaim pengangguran awal meningkat menjadi 215.000, menambah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi global.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan prospek anggaran turut membebani sentimen pasar. Selain itu, meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor dan pembayaran dividen korporasi juga menambah tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga: Ancaman PHK 9.000 Karyawan Mengintai RI Tiga Bulan Lagi, Ratusan Sudah Diputus Kerja
Pelemahan rupiah juga terjadi seiring tekanan di pasar saham dan obligasi domestik, termasuk dipicu sentimen global serta kenaikan imbal hasil surat berharga negara. Kondisi ini mempersempit pasokan valas di pasar domestik.
Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.880–Rp17.940 per dolar AS dalam jangka pendek, dan berada di rentang Rp17.800–Rp18.100 per dolar AS dalam sepekan mendatang.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan prospek anggaran turut membebani sentimen pasar. Selain itu, meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor dan pembayaran dividen korporasi juga menambah tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga: Ancaman PHK 9.000 Karyawan Mengintai RI Tiga Bulan Lagi, Ratusan Sudah Diputus Kerja
Pelemahan rupiah juga terjadi seiring tekanan di pasar saham dan obligasi domestik, termasuk dipicu sentimen global serta kenaikan imbal hasil surat berharga negara. Kondisi ini mempersempit pasokan valas di pasar domestik.
Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.880–Rp17.940 per dolar AS dalam jangka pendek, dan berada di rentang Rp17.800–Rp18.100 per dolar AS dalam sepekan mendatang.
(nng)
Lihat Juga :