Biaya Logistik Menggila, Pembeli Asia Batalkan Impor LPG dari AS
Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:06 WIB
Baca Juga: Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Lonjakan tarif pengiriman mencerminkan terbatasnya ketersediaan kapal tanker global. Rute pengiriman melalui Terusan Panama kini menghadapi antrean panjang atau biaya tambahan tinggi, sementara jalur alternatif melalui Tanjung Harapan memperpanjang waktu tempuh dan memperketat pasokan kapal.
Data Baltic Exchange mencatat tarif harian kapal pengangkut LPG rute Teluk AS ke Jepang mencapai USD111.600 per hari pada April, meningkat 69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, ekspor LPG AS sempat mencetak rekor 2,7 juta barel per hari pada April seiring meningkatnya permintaan Asia.
Dampak konflik juga meluas ke pasar energi global. Harga minyak tercatat melonjak lebih dari 50% sejak eskalasi konflik pada Februari, memicu tekanan inflasi dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Kondisi ini turut memengaruhi kebijakan moneter global, termasuk arah suku bunga bank sentral AS (The Fed). Pasar kini memperkirakan hanya satu kali penurunan suku bunga pada 2026, sementara penguatan dolar AS juga terjadi seiring meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.
Lonjakan tarif pengiriman mencerminkan terbatasnya ketersediaan kapal tanker global. Rute pengiriman melalui Terusan Panama kini menghadapi antrean panjang atau biaya tambahan tinggi, sementara jalur alternatif melalui Tanjung Harapan memperpanjang waktu tempuh dan memperketat pasokan kapal.
Data Baltic Exchange mencatat tarif harian kapal pengangkut LPG rute Teluk AS ke Jepang mencapai USD111.600 per hari pada April, meningkat 69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, ekspor LPG AS sempat mencetak rekor 2,7 juta barel per hari pada April seiring meningkatnya permintaan Asia.
Dampak konflik juga meluas ke pasar energi global. Harga minyak tercatat melonjak lebih dari 50% sejak eskalasi konflik pada Februari, memicu tekanan inflasi dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Kondisi ini turut memengaruhi kebijakan moneter global, termasuk arah suku bunga bank sentral AS (The Fed). Pasar kini memperkirakan hanya satu kali penurunan suku bunga pada 2026, sementara penguatan dolar AS juga terjadi seiring meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.
(nng)
Lihat Juga :