Pasokan Minyak Dunia Lenyap 1,5 Juta Barel per Hari, Pasar Energi Bakal Terguncang?

Minggu, 31 Mei 2026 - 08:50 WIB
"Tetapi bahwa permintaan itu telah merosot hingga 9% atau setara 1,5 juta barel per hari-secara mendadak atau tidak terduga, namun dengan sangat sedikit gangguan yang terlihat di masyarakat," bebernya.

Harga minyak dunia saat ini memang relatif bertahan di kisaran USD100 per barel dan hanya sesekali melonjak. Hal ini bisa terjadi karena dunia memasuki tahun 2026 dengan kondisi pasokan yang melimpah (oversupplied), ditambah aksi pemerintah berbagai negara yang kompak menguras cadangan minyak darurat mereka demi meredam guncangan pasar.

Namun kunci utama dari keajaiban ekonomi ini adalah sebuah istilah psikologi pasar yang disebut Demand Destruction (Kehancuran Permintaan). Sederhananya, ketika harga barang sudah terlampau mahal, konsumen akan berhenti membeli secara sukarela.

Menariknya, JPMorgan mencatat bahwa penurunan konsumsi bahan bakar ini bukan lahir dari kampanye penghematan energi yang dipaksakan oleh pemerintah. Tidak ada pembatasan mobilitas yang ketat seperti era pandemi, dan tidak ada atmosfer krisis dalam kehidupan sehari-hari.

"Sebaliknya, ini terlihat seperti pilihan ekonomi yang sunyi dari para konsumen," lanjut laporan JPMorgan.

Fakta di lapangan menunjukkan perubahan perilaku nyata akibat tekanan psikologis mahalnya harga BBM dan tiket pesawat. Di China, ada jutaan komuter secara massal meninggalkan kendaraan berbasis bensin dan bermigrasi ke alternatif yang jauh lebih murah dan rendah karbon, seperti bus listrik, truk berbahan bakar gas, kereta cepat listrik, dan taksi listrik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!