Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 - 11:30 WIB
Selain produk kosmetik seperti lipstik premium, industri lain yang biasanya mencatatkan kinerja positif di tengah resesi adalah coffee shop, restoran cepat saji kasual hingga bioskop. Konsumen yang kondisi keuangannya sedang terjepit cenderung mencari pelarian instan yang murah untuk melupakan masalah finansial mereka dibandingkan harus berlibur mahal ke luar negeri.

Basis teoritis lain dari efek lipstik ini juga berkaitan erat dengan kondisi pasar tenaga kerja yang menjadi jauh lebih kompetitif selama masa resesi ekonomi. Situasi tersebut mendorong para pencari kerja maupun karyawan untuk membelanjakan uang pada barang-barang yang dapat meningkatkan citra visual serta daya saing mereka di hadapan perusahaan.

Istilah lipstick effect pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Juliet Schor dalam bukunya yang berjudul "The Overspent American" pada tahun 1998 silam. Namun, konsep ini kian populer secara global setelah Chairman Estée Lauder, Leonard Lauder, mengonfirmasi lonjakan tajam penjualan lipstik perusahaannya pasca-serangan teror September 2001 di AS.

Kendati berbasis pada teori ekonomi yang solid, kegunaan efek lipstik sebagai indikator utama untuk memprediksi datangnya resesi dinilai memiliki keterbatasan besar bagi publik dan investor retail. Hambatan utama terletak pada sulitnya mengakses data penjualan produk perawatan diri dan kesehatan secara berkala dan tepat waktu tanpa adanya jeda waktu (lag time).

Baca Juga: IHSG Rontok Lagi Hari Ini, Tak Lama Pembukaan Anjlok 1,25% ke 5.866
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!