Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
Rabu, 10 Juni 2026 - 11:45 WIB
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 diperkirakan akan menambah tekanan biaya operasional di sektor logistik. Foto/Dok
JAKARTA - Kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 diperkirakan akan menambah tekanan biaya operasional di sektor logistik . Kondisi ini berpotensi memengaruhi biaya distribusi barang hingga ongkos kirim yang harus ditanggung pelaku usaha maupun konsumen.
Seperti diketahui, berdasarkan ketentuan terbaru, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu Pertamax Green 95 melonjak dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
CEO SiCepat Ekspres Indonesia, Barry Lim mengatakan, kenaikan harga BBM memberikan dampak langsung terhadap industri logistik yang sangat bergantung pada biaya transportasi dalam proses distribusi barang. Baca Juga: Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
"Kenaikan harga BBM memberikan tekanan tambahan pada biaya logistik, baik untuk pelaku usaha maupun konsumen akhir," kata Barry dalam keterangan resminya, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya di tengah kenaikan biaya operasional tersebut, layanan pengiriman dengan tarif lebih terjangkau berpotensi menjadi pilihan bagi masyarakat maupun pelaku usaha untuk menekan pengeluaran distribusi. Sebagai langkah antisipasi, SiCepat memperluas akses layanan HALU (Harga Mulai Lima Ribu) yang menawarkan tarif lebih ekonomis dibandingkan layanan reguler.
"Melalui perluasan layanan HALU, kami ingin memberikan alternatif yang lebih terjangkau hingga 25% lebih hemat dibandingkan layanan reguler agar kebutuhan distribusi tetap bisa berjalan efisien tanpa membebani biaya operasional," lanjutnya.
Seperti diketahui, berdasarkan ketentuan terbaru, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu Pertamax Green 95 melonjak dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
CEO SiCepat Ekspres Indonesia, Barry Lim mengatakan, kenaikan harga BBM memberikan dampak langsung terhadap industri logistik yang sangat bergantung pada biaya transportasi dalam proses distribusi barang. Baca Juga: Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
"Kenaikan harga BBM memberikan tekanan tambahan pada biaya logistik, baik untuk pelaku usaha maupun konsumen akhir," kata Barry dalam keterangan resminya, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya di tengah kenaikan biaya operasional tersebut, layanan pengiriman dengan tarif lebih terjangkau berpotensi menjadi pilihan bagi masyarakat maupun pelaku usaha untuk menekan pengeluaran distribusi. Sebagai langkah antisipasi, SiCepat memperluas akses layanan HALU (Harga Mulai Lima Ribu) yang menawarkan tarif lebih ekonomis dibandingkan layanan reguler.
"Melalui perluasan layanan HALU, kami ingin memberikan alternatif yang lebih terjangkau hingga 25% lebih hemat dibandingkan layanan reguler agar kebutuhan distribusi tetap bisa berjalan efisien tanpa membebani biaya operasional," lanjutnya.
Lihat Juga :