Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:00 WIB
Penguatan serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Nilai tukar tersebut bergerak dari Rp18.171 per dolar AS pada awal pekan menjadi Rp17.921 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, atau menguat sekitar 1,38 persen.
Menurut Destry, respons positif investor terhadap bauran kebijakan moneter dan fiskal berhasil mendorong arus masuk modal asing ke berbagai instrumen keuangan domestik, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), hingga obligasi internasional Danantara. Penjualan perdana obligasi Danantara bahkan mencapai Rp26,9 triliun, yang dinilai mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.
Selain itu, BI juga memperkuat stabilitas nilai tukar melalui kerja sama regional dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) melalui perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan serta penguatan skema Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA). Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat ketahanan eksternal rupiah.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas pasar melalui intervensi yang terukur serta memastikan nilai tukar bergerak menuju level fundamentalnya. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan membaiknya sentimen investor, otoritas moneter optimistis tren penguatan rupiah masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek.
Sementara itu, Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai kinerja rupiah sepanjang pekan ini cukup impresif karena mampu bertahan di tengah meningkatnya risiko geopolitik global. Pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman Iran untuk membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dan gas dunia.
Menurut Destry, respons positif investor terhadap bauran kebijakan moneter dan fiskal berhasil mendorong arus masuk modal asing ke berbagai instrumen keuangan domestik, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), hingga obligasi internasional Danantara. Penjualan perdana obligasi Danantara bahkan mencapai Rp26,9 triliun, yang dinilai mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.
Selain itu, BI juga memperkuat stabilitas nilai tukar melalui kerja sama regional dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) melalui perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan serta penguatan skema Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA). Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat ketahanan eksternal rupiah.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas pasar melalui intervensi yang terukur serta memastikan nilai tukar bergerak menuju level fundamentalnya. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan membaiknya sentimen investor, otoritas moneter optimistis tren penguatan rupiah masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek.
Sementara itu, Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai kinerja rupiah sepanjang pekan ini cukup impresif karena mampu bertahan di tengah meningkatnya risiko geopolitik global. Pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman Iran untuk membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dan gas dunia.
Lihat Juga :