Siap-siap Banjir Pasokan Minyak Dunia, Morgan Stanley Koreksi Harga Brent di Angka USD75/Barel
Rabu, 01 Juli 2026 - 17:49 WIB
Setelah beberapa bulan lalu dicekam ketakutan akan kelangkaan energi akibat konflik geopolitik, pasar minyak mentah global kini justru bersiap menghadapi ancaman baru banjir pasokan raksasa. Foto/Dok
JAKARTA - Keadaan pasar energi dunia berubah 180 derajat dalam waktu yang sangat singkat. Setelah beberapa bulan lalu dicekam ketakutan akan kelangkaan energi akibat konflik geopolitik, pasar minyak mentah global kini justru bersiap menghadapi ancaman baru banjir pasokan (supply glut) raksasa.
Kondisi ini memaksa lembaga keuangan elite Wall Street, Morgan Stanley mengambil langkah ekstrem dengan memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kedua kalinya hanya dalam waktu dua minggu. Dalam nota analisis terbarunya yang dikutip dari Bloomberg, Morgan Stanley secara drastis memangkas prediksi harga minyak Dated Brent untuk kuartal III tahun 2026 ini sebesar USD15 menjadi hanya USD75 per barel.
Langkah pesimistis ini segera diikuti oleh raksasa perbankan lain seperti Goldman Sachs, yang ikut memotong proyeksi mereka menjadi USD80 per barel. Baca Juga: Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
Pemicu utama di balik terjun bebasnya prediksi harga minyak ini adalah normalisasi jalur laut terkritis di dunia -Selat Hormuz- yang berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Pemulihan ini terjadi pasca-penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kondisi ini memaksa lembaga keuangan elite Wall Street, Morgan Stanley mengambil langkah ekstrem dengan memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kedua kalinya hanya dalam waktu dua minggu. Dalam nota analisis terbarunya yang dikutip dari Bloomberg, Morgan Stanley secara drastis memangkas prediksi harga minyak Dated Brent untuk kuartal III tahun 2026 ini sebesar USD15 menjadi hanya USD75 per barel.
Langkah pesimistis ini segera diikuti oleh raksasa perbankan lain seperti Goldman Sachs, yang ikut memotong proyeksi mereka menjadi USD80 per barel. Baca Juga: Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
Efek Selat Hormuz di Luar Prediksi
Pemicu utama di balik terjun bebasnya prediksi harga minyak ini adalah normalisasi jalur laut terkritis di dunia -Selat Hormuz- yang berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Pemulihan ini terjadi pasca-penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Lihat Juga :