Vietnam dan Filipina Bersaing Jadi Raja ASEAN, Mengapa Indonesia Tertinggal?
Sabtu, 04 Juli 2026 - 12:15 WIB
Peningkatan investasi publik Filipina juga dinilai menjadi faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Alokasi investasi pemerintah meningkat dari 2,9% menjadi 4,1% terhadap PDB didukung stabilitas makroekonomi dan perbaikan iklim usaha.
Meski mencatat kemajuan pesat, kedua negara masih menghadapi tantangan struktural. Manajer Praktik Asia Timur Bank Dunia Sebastian Eckardt menyebut Vietnam perlu memperkuat ketahanan energi terbarukan dan mengatasi kendala pasokan listrik untuk mendukung target produksi 1,5 juta kendaraan listrik pada 2030.
Baca Juga: Tiga Bank Asing Besar Tarik Uang Rp11,5 Triliun dari Indonesia, Ada Apa?
Di Filipina, tantangan utama meliputi efisiensi logistik, tingginya biaya energi antar-pulau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk sektor industri bernilai tambah tinggi. Bank Dunia juga menyoroti perlunya reformasi regulasi bisnis dan penguatan konektivitas digital.
Di sisi lain, Indonesia dinilai masih memiliki kekuatan besar dari pasar domestik, sumber daya alam, dan bonus demografi. Namun, tanpa percepatan reformasi regulasi, penyederhanaan birokrasi, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan hilirisasi industri, Indonesia dinilai berisiko kehilangan momentum sebagai pusat pertumbuhan ekonomi utama ASEAN.
Laporan Investasi ASEAN 2024 mencatat aliran investasi asing langsung ke enam negara utama Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Filipina, rata-rata mencapai USD236 miliar per tahun sepanjang 2021-2023. Persaingan ekonomi yang semakin ketat di kawasan dinilai menjadi peringatan bagi Indonesia untuk segera memperbaiki daya saing agar tidak semakin tertinggal dari negara tetangga.
Meski mencatat kemajuan pesat, kedua negara masih menghadapi tantangan struktural. Manajer Praktik Asia Timur Bank Dunia Sebastian Eckardt menyebut Vietnam perlu memperkuat ketahanan energi terbarukan dan mengatasi kendala pasokan listrik untuk mendukung target produksi 1,5 juta kendaraan listrik pada 2030.
Baca Juga: Tiga Bank Asing Besar Tarik Uang Rp11,5 Triliun dari Indonesia, Ada Apa?
Di Filipina, tantangan utama meliputi efisiensi logistik, tingginya biaya energi antar-pulau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk sektor industri bernilai tambah tinggi. Bank Dunia juga menyoroti perlunya reformasi regulasi bisnis dan penguatan konektivitas digital.
Di sisi lain, Indonesia dinilai masih memiliki kekuatan besar dari pasar domestik, sumber daya alam, dan bonus demografi. Namun, tanpa percepatan reformasi regulasi, penyederhanaan birokrasi, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan hilirisasi industri, Indonesia dinilai berisiko kehilangan momentum sebagai pusat pertumbuhan ekonomi utama ASEAN.
Laporan Investasi ASEAN 2024 mencatat aliran investasi asing langsung ke enam negara utama Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Filipina, rata-rata mencapai USD236 miliar per tahun sepanjang 2021-2023. Persaingan ekonomi yang semakin ketat di kawasan dinilai menjadi peringatan bagi Indonesia untuk segera memperbaiki daya saing agar tidak semakin tertinggal dari negara tetangga.
(nng)
Lihat Juga :