Dulu Rakyatnya Ngungsi ke RI, Kini Vietnam Naik Kelas Lampaui Indonesia

Minggu, 05 Juli 2026 - 11:32 WIB
Sementara mesin utama ekonomi -yakni industri manufaktur- terus mengkerut dari waktu ke waktu. Didik menilai hancurnya industri nasional merupakan buah dari absennya kebijakan strategis dan hilangnya konsistensi pemerintah dalam membangun iklim investasi.

"Sektor Industri Indonesia sudah lama terombang-ambing tidak mempunyai pijakan kebijakan yang jelas. Data PMI manufaktur yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi," ujar Didik J. Rachbini dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).

Selain absennya kebijakan industri, dunia usaha menghadapi tekanan biaya yang karena faktor geopolitik global dan faktor domestik. Didik menekankan, dunia usaha tidak akan berinvestasi selama tidak kebijakan yang jelas, hambatan birokrasi yang ruwet dan insentif yang tidak memadai untuk menjadikan industri tumbuh pesat.

Selain itu sektor riil juga dihantam beban ganda akibat volatilitas geopolitik global (seperti ketegangan energi di Selat Hormuz) serta beban logistik domestik yang mahal. Baca Juga: Vietnam dan Filipina Bersaing Jadi Raja ASEAN, Mengapa Indonesia Tertinggal?

Ada juga faktor daya beli masyafakat yang menurun, semua itu terjadi karena sektor industri mengkerut dan ekonomi secara keseluruhan tidak cukup menyediakan kesempatan kerja produktif. Karena itu, masalah ini seperti lingkaran setan sehingga upaya memutusnya tidak lain adalah transformasi struktur industri, deregulasi dan debirokratisasi agar dunia usaha utamanya industri berkembang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!