Menilik Strategi Eksportir Kelapa Bulat Bertahan di Tengah Ketatnya Pasar Global
Selasa, 07 Juli 2026 - 13:35 WIB
Data pelabuhan mencatat, volume ekspor kelapa bulat tujuan Malaysia dari Maret ke April 2026 merosot sekitar 78,43 persen hanya dalam waktu satu bulan. Pada Mei 2026, volume pengiriman turun sekitar 42,02 persen dibandingkan Maret 2026.
“Fase penurunan paling drastis terjadi pada periode Maret hingga April 2026. Dalam rentang waktu satu bulan tersebut, terjadi penurunan sebesar 1.745 ton atau merosot sekitar 78,43 persen hanya dalam waktu satu bulan,” ujar Capt.Yovan.
Kondisi tersebut terjadi di tengah melemahnya pasar kelapa Malaysia. Harga kelapa di Malaysia disebut mengalami penurunan. Sebelumnya, harga ekspor kelapa bulat tujuan Malaysia sudah turun, dan kini kembali turun lagi.
Dalam kondisi harga kelapa di negara tujuan yang rendah dan permintaan yang lemah, eksportir harus berhitung lebih hati-hati. Jika tetap memaksakan penjualan ke negara tujuan, potensi kerugian bisa terjadi karena biaya pembelian, pengumpulan, bongkar muat, dan pengiriman belum tentu tertutup oleh harga jual di pasar tujuan.
Capt.Yovan menjelaskan, melemahnya permintaan dari negara tujuan seperti Malaysia turut berdampak terhadap frekuensi keberangkatan kapal ekspor dari Sungai Guntung.
“Penurunan permintaan dari negara tujuan seperti Malaysia secara langsung berdampak pada penurunan frekuensi keberangkatan kapal ekspor jenis kargo curah atau kayu dari Sungai Guntung,” ungkap Capt.Yovan.
Menurutnya, kapal baru akan dijadwalkan berlayar apabila kuota muatan minimal sudah terpenuhi sesuai pesanan dari pembeli luar negeri.
“Kapal baru akan dijadwalkan berlayar setelah kuota muatan minimal terpenuhi sesuai pesanan atau purchase order dari pembeli di luar negeri,” tambahnya.
Selain permintaan yang melemah, kondisi pasokan di negara tujuan juga ikut memengaruhi penurunan ekspor. Ketika hasil panen dan pasokan kelapa domestik di negara tujuan masih banyak, kebutuhan impor dari Indonesia berkurang. Hal ini menyebabkan pengiriman kelapa bulat dari Indonesia tidak lagi seramai sebelumnya.
Hingga kini, tidak ada pembatasan atau larangan ekspor kelapa bulat dari pemerintah Indonesia. Tidak ada pula pajak atau pungutan yang dikenakan untuk ekspor kelapa bulat. Kondisi yang terjadi dinilai murni karena tekanan pasar global.
Harga kelapa di sejumlah negara produsen juga sedang mengalami tekanan akibat minimnya permintaan dan ketidakpastian ekonomi yang dipengaruhi dinamika global. Dalam situasi seperti ini, harga di tingkat eksportir ikut mengikuti pergerakan permintaan dan penawaran di negara tujuan.
“Fase penurunan paling drastis terjadi pada periode Maret hingga April 2026. Dalam rentang waktu satu bulan tersebut, terjadi penurunan sebesar 1.745 ton atau merosot sekitar 78,43 persen hanya dalam waktu satu bulan,” ujar Capt.Yovan.
Kondisi tersebut terjadi di tengah melemahnya pasar kelapa Malaysia. Harga kelapa di Malaysia disebut mengalami penurunan. Sebelumnya, harga ekspor kelapa bulat tujuan Malaysia sudah turun, dan kini kembali turun lagi.
Dalam kondisi harga kelapa di negara tujuan yang rendah dan permintaan yang lemah, eksportir harus berhitung lebih hati-hati. Jika tetap memaksakan penjualan ke negara tujuan, potensi kerugian bisa terjadi karena biaya pembelian, pengumpulan, bongkar muat, dan pengiriman belum tentu tertutup oleh harga jual di pasar tujuan.
Capt.Yovan menjelaskan, melemahnya permintaan dari negara tujuan seperti Malaysia turut berdampak terhadap frekuensi keberangkatan kapal ekspor dari Sungai Guntung.
“Penurunan permintaan dari negara tujuan seperti Malaysia secara langsung berdampak pada penurunan frekuensi keberangkatan kapal ekspor jenis kargo curah atau kayu dari Sungai Guntung,” ungkap Capt.Yovan.
Menurutnya, kapal baru akan dijadwalkan berlayar apabila kuota muatan minimal sudah terpenuhi sesuai pesanan dari pembeli luar negeri.
“Kapal baru akan dijadwalkan berlayar setelah kuota muatan minimal terpenuhi sesuai pesanan atau purchase order dari pembeli di luar negeri,” tambahnya.
Selain permintaan yang melemah, kondisi pasokan di negara tujuan juga ikut memengaruhi penurunan ekspor. Ketika hasil panen dan pasokan kelapa domestik di negara tujuan masih banyak, kebutuhan impor dari Indonesia berkurang. Hal ini menyebabkan pengiriman kelapa bulat dari Indonesia tidak lagi seramai sebelumnya.
Hingga kini, tidak ada pembatasan atau larangan ekspor kelapa bulat dari pemerintah Indonesia. Tidak ada pula pajak atau pungutan yang dikenakan untuk ekspor kelapa bulat. Kondisi yang terjadi dinilai murni karena tekanan pasar global.
Harga kelapa di sejumlah negara produsen juga sedang mengalami tekanan akibat minimnya permintaan dan ketidakpastian ekonomi yang dipengaruhi dinamika global. Dalam situasi seperti ini, harga di tingkat eksportir ikut mengikuti pergerakan permintaan dan penawaran di negara tujuan.
Lihat Juga :