Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket

Minggu, 12 Juli 2026 - 16:35 WIB
Di sisi lain, ia menilai dinamika politik masih menjadi faktor dominan dibandingkan kondisi fundamental pasar. Meskipun saat ini terjadi kelebihan pasokan (oversupply), ketegangan geopolitik dinilai mampu mengubah arah pergerakan harga minyak dalam waktu singkat.

"Walaupun kita lihat terjadi oversupply, rupanya politik sangat mempengaruhi terhadap penguatan harga minyak mentah dunia," kata Ibrahim.

Lebih lanjut, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga apabila gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama.

Ia mengatakan pasar juga akan mencermati rilis data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat pada pekan depan. Menurutnya, apabila Selat Hormuz tetap ditutup sehingga harga minyak terus meningkat, tekanan inflasi diperkirakan kembali menguat dan mempengaruhi arah kebijakan bank sentral AS.

Sebagai catatan, perkembangan terbaru menunjukkan pasar minyak masih sangat sensitif terhadap situasi di Selat Hormuz. Meskipun harga minyak sempat melemah pada penutupan perdagangan akhir pekan, minyak Brent dan WTI tetap membukukan kenaikan mingguan di tengah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!