Prediksi Ngeri Goldman Sachs: Harga Minyak Brent Bakal Meroket ke USD120 per Barel

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:30 WIB

Proyeksi Skenario Normal vs Terburuk

Dalam laporan riset tertanggal 20 Juli, tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Daan Struyven memaparkan bahwa eskalasi di Timur Tengah telah memangkas estimasi aliran minyak Teluk Persia hingga di bawah 45% dari level sebelum perang.

Meski demikian, angka USD120 per barel bukanlah skenario dasar (base case) utama dari bank investasi tersebut. Goldman Sachs masih memprediksi harga minyak akan melandai jika de-eskalasi berhasil diwujudkan.

"Konflik di Timur Tengah dan penurunan estimasi aliran minyak Teluk Persia hingga di bawah 45% dari level pra-perang telah mendorong harga minyak kembali naik. Walau skenario dasar kami menempatkan Brent di USD80 per barel pada kuartal IV dan USD75 pada tahun depan dengan asumsi de-eskalasi, risiko terhadap proyeksi ini sangat condong ke arah atas (tilted to the upside)," tulis Struyven.

Stok Menipis di Tengah Melambatnya Permintaan China

Goldman Sachs mencatat bahwa penurunan persediaan minyak global (inventories) pada kuartal kedua membuat pasar energi makin rentan terhadap kejutan pasokan (supply shock). Namun ada dua faktor penyeimbang yang berpotensi menahan agar kenaikan harga tidak terlalu ekstrem.

Baca Juga: Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!