Di Sidang PBB, Presiden China Ungkap Munculnya Virus Corona Akibat Kutukan
Rabu, 23 September 2020 - 14:53 WIB
(Baca juga : Seorang Perempuan Muda Arab Saudi Diperkosa dan Dibunuh Secara Brutal )
Langkah tersebut disambut baik sebagai upaya signifikan China sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Mengutip Perjanjian Paris, yang dia dan mantan Presiden AS Barack Obama buat pada 2015, Xi mengatakan negaranya akan memenuhi target pengurangan emisi yang lebih baik dengan kebijakan dan tindakan yang kuat. "Kami menargetkan puncak emisi CO2 sebelum 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum 2060," kata dia. (Baca juga : Dihancurkan Pandemi Corona, Herd Imunity Berkembang di Kota Amazon Brasil )
Komitmen Xi, di Sidang Umum PBB disambut gembira oleh para juru kampanye iklim dunia. Direktur eksekutif Greenpeace Jennifer Morgan menyebutnya sebagai sinyal penting yang menunjukkan perubahan iklim adalah agenda utama bagi China. Apalagi China saat ini masih terus bergantung pada batu bara.
Baca Juga: Berpidato di Sidang Umum PBB, Jokowi Soroti Masalah Kedaulatan Wilayah
Belum lagi, AS dan China tahun ini telah dilanda cuaca ekstrem seperti yang diprediksi oleh para ilmuwan perubahan iklim. Di China, hujan musim panas terparah telag menyebabkan banjir yang paling dalam tiga dekade. Sementara AS menghadapi badai mengerikan dan kebakaran hutan di negara bagian barat.
Langkah tersebut disambut baik sebagai upaya signifikan China sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Mengutip Perjanjian Paris, yang dia dan mantan Presiden AS Barack Obama buat pada 2015, Xi mengatakan negaranya akan memenuhi target pengurangan emisi yang lebih baik dengan kebijakan dan tindakan yang kuat. "Kami menargetkan puncak emisi CO2 sebelum 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum 2060," kata dia. (Baca juga : Dihancurkan Pandemi Corona, Herd Imunity Berkembang di Kota Amazon Brasil )
Komitmen Xi, di Sidang Umum PBB disambut gembira oleh para juru kampanye iklim dunia. Direktur eksekutif Greenpeace Jennifer Morgan menyebutnya sebagai sinyal penting yang menunjukkan perubahan iklim adalah agenda utama bagi China. Apalagi China saat ini masih terus bergantung pada batu bara.
Baca Juga: Berpidato di Sidang Umum PBB, Jokowi Soroti Masalah Kedaulatan Wilayah
Belum lagi, AS dan China tahun ini telah dilanda cuaca ekstrem seperti yang diprediksi oleh para ilmuwan perubahan iklim. Di China, hujan musim panas terparah telag menyebabkan banjir yang paling dalam tiga dekade. Sementara AS menghadapi badai mengerikan dan kebakaran hutan di negara bagian barat.
Lihat Juga :