Surplus Nggak Ngaruh, RI Diramal Masih Resesi hingga Akhir Tahun
Senin, 16 November 2020 - 15:19 WIB
Sementara neraca perdagangan non-migas tercatat surplus USD4,1 miliar, yang merupkan surplus tertinggi sejak 2008, dimana ekspor non-migas menunjukkan tren peningkatan sejalan dengan pemulihan ekonomi dari negara tujuan ekspor seperti Zona Euro, AS, Jepang, China, India dan global yang terkonfirmasi oleh tren peningkatan aktivitas manufakturnya.
"Volume ekspor non-migas pada bulan Oktober tercatat naik 8,8% meskipun masih membukukan laju pertumbuhan tahunan yang negatif. Pemulihan ekonomi global tersebut juga turut mendorong kenaikan permintaan komoditas sedemikian sehingga mendorong kenaikan harga komoditas seperti CPO yang naik sekitar 15,4% (ytd), harga karet alam naik 8,7% (ytd) dan nikel naik 13,3% (ytd)," katanya.
(Baca Juga: Lagi dan Lagi, Neraca Dagang Oktober Kembali Surplus USD3,61 Miliar)
Selain itu impor non-migas belum menunjukkan tren perbaikan yang mengindikasikan kebutuhan impor terutama impor bahan baku masih cenderung rendah mempertimbangkan kondisi kapasitas produksi yang belum pulih sejak pandemi Covid-19.
Hal tersebut terindikasi dari aktivitas manufaktur Indonesia bulan Oktober yang masih tercatat dalam fase kontraktif (<50). Volume impor non-migas pada bulan Oktober tercatat turun 5,9% (mom). Kapasitas produksi yang belum mengindikasikan perbaikan yang signfikan tersebut, merefleksikan sisi permintaan perekonomian yang masih lemah.
"Volume ekspor non-migas pada bulan Oktober tercatat naik 8,8% meskipun masih membukukan laju pertumbuhan tahunan yang negatif. Pemulihan ekonomi global tersebut juga turut mendorong kenaikan permintaan komoditas sedemikian sehingga mendorong kenaikan harga komoditas seperti CPO yang naik sekitar 15,4% (ytd), harga karet alam naik 8,7% (ytd) dan nikel naik 13,3% (ytd)," katanya.
(Baca Juga: Lagi dan Lagi, Neraca Dagang Oktober Kembali Surplus USD3,61 Miliar)
Selain itu impor non-migas belum menunjukkan tren perbaikan yang mengindikasikan kebutuhan impor terutama impor bahan baku masih cenderung rendah mempertimbangkan kondisi kapasitas produksi yang belum pulih sejak pandemi Covid-19.
Hal tersebut terindikasi dari aktivitas manufaktur Indonesia bulan Oktober yang masih tercatat dalam fase kontraktif (<50). Volume impor non-migas pada bulan Oktober tercatat turun 5,9% (mom). Kapasitas produksi yang belum mengindikasikan perbaikan yang signfikan tersebut, merefleksikan sisi permintaan perekonomian yang masih lemah.
(fai)
Lihat Juga :