Saatnya Industri Hulu Migas Jadi Lokomotif Ekonomi

Jum'at, 04 Desember 2020 - 09:35 WIB
Chief Economist dari International Energy Agency (IEA) Laszlo Varro mengatakan, industri hulu migas Indonesia memiliki banyak keunggulan komparatif, di antaranya kondisi demokrasi yang stabil serta fakta bahwa industri ini sudah beroperasi di Nusantara lebih dari seratus tahun dan diminati perusahaan-perusahaan internasional. Akan tetapi dia mengingatkan bahwa saat ini dunia sedang bertransisi pada pemakaian energi terbarukan sehingga ke depan investasi di hulu migas akan semakin terbatas.

“Akan ada pemain yang tidak mendapatkan kesempatan karena kompetisi untuk menarik investasi akan sangat ketat,” ujarnya.

Untuk Indonesia, Laszlo menilai potensi yang sangat besar adalah pengembangan proyek enhanced oil recovery (EOR) dan pemanfaatan gas CO2. Terkait dengan LNG, menurutnya potensi terbesar adalah mengembangkan fasilitas kilang LNG mini untuk memenuhi kebutuhan gas industri domestik.

PGN Gandeng Inpex Masela

Inpex Masela Ltd dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menandatangani nota kesepahaman (MoU) di sela-sela acara International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas (IOG 2020). MoU ini menjadi titik tolak kedua belah pihak memulai pembahasan suplai gas bumi untuk PGN dari Proyek LNG Abadi, Wilayah Kerja (WK) Masela. (Baca juga: Sekolah Tatap Muka, Perlu Patroli Khusus Awasi Mobilisasi Siswa)

MoU ini dilakukan oleh Presiden Direktur Indonesia Inpex Masela Akihiro Watanabe serta Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Syahrial Mukhtar disaksikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto.

“Penandatanganan ini akan menjadi milestone penting untuk kedua belah pihak,” kata Syahrial saat menjadi pembicara dalam Forum Komersialisasi IOG 2020 kemarin.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!