Bisnis Properti dan Tabungan Emas Solusi untuk Masa Depan
Sabtu, 05 Desember 2020 - 12:15 WIB
Pada 2011, Aji kembali membeli lahan kosong di dekat tokonya di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto, yakni seluas 350 meter persegi untuk dibangun 15 kamar. Tahun demi tahun, Aji terus menambah kamar dan meninggikan lantai hingga 3 lantai. Pada 2017 bangunannya sudah selesai sebanyak 21 kamar. Total kamar indekos yang dimiliki Aji adalah 53 kamar di dua tempat.
Bagi Aji, tidak mudah menjalani bisnis indekos karena butuh modal besar dan waktu lama untuk modal kembali. Terakhir, biaya pembangunan menembus angka Rp1 miliar. Kekurangan biaya dia tutupi dari pinjaman bank.
Aji menyadari itu, namun dia tetap yakin terus membangun kamar indekosnya. "Memang lama balik modal, namun tidak akan rugi. Cicilan sebesar Rp5 juta per bulan juga tertutupi, bahkan masa pandemi saat tidak ada perkuliahan hanya sedikit yang keluar. Sisanya masih bertahan," ungkap Aji. (Baca juga: KPK Tahan Eks Pejabat Kementerian Agama)
Memang benar kata Aji. Meskipun butuh waktu tahunan untuk membalikkan modal, dia tetap mendapat penghasilan yang jelas. Cicilan ke bank pun sudah tertutupi selama setahun hanya dengan mengandalkan 12 kamar indekos miliknya. Sisa pendapatannya digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan ditabung.
Bisnis indekos untuk masa sekarang pun masih besar pasarnya. Ditambah dengan bantuan teknologi seperti aplikasi pencarian indekos. Aji mengaku, dirinya bergabung dengan Mamikos yang dapat mempromosikan indekosnya, sehingga tetap ramai sekalipun pada masa pandemi. Itu yang membuatnya percaya diri hingga sekarang, bahkan ingin terus membangun banyak indekos di banyak tempat.
Aji memilih investasi jangka panjang dengan membangun indekos. Dia hanya ingin seperti pegawai pemerintah pada saat tua atau ketika fisiknya sudah tidak kuat bekerja masih dapat berpenghasilan. Baginya berinvestasi properti lebih aman meskipun berat di awal. Nilainya pun akan terus naik dari tahun ke tahun. Bahkan, Aji pun giat menabung kembali untuk membeli tanah. Rencananya akan dibuat kebun atau kamar indekos lagi masih dalam rencananya. (Baca juga: Aliran Modal Asing ke Luar Capai Rp2,55 Triliun)
Beberapa orang yang melek investasi memang ingin menjamin masa tua mereka. Seperti yang dilakukan Tuti Chodijah, 63, sejak usia muda senang membeli perhiasan emas ketimbang barang lain yang tidak ada nilainya di kemudian hari. "Tidak terlalu suka beli baju dengan harga mahal. Beli yang biasa saja yang penting nyaman dipakai. Peralatan rumah tangga yang biasa perempuan koleksi pun saya jarang beli. Kalau punya uang lebih langsung beli anting emas, atau cincin meskipun hanya satu gram," ungkapnya.
Bagi Aji, tidak mudah menjalani bisnis indekos karena butuh modal besar dan waktu lama untuk modal kembali. Terakhir, biaya pembangunan menembus angka Rp1 miliar. Kekurangan biaya dia tutupi dari pinjaman bank.
Aji menyadari itu, namun dia tetap yakin terus membangun kamar indekosnya. "Memang lama balik modal, namun tidak akan rugi. Cicilan sebesar Rp5 juta per bulan juga tertutupi, bahkan masa pandemi saat tidak ada perkuliahan hanya sedikit yang keluar. Sisanya masih bertahan," ungkap Aji. (Baca juga: KPK Tahan Eks Pejabat Kementerian Agama)
Memang benar kata Aji. Meskipun butuh waktu tahunan untuk membalikkan modal, dia tetap mendapat penghasilan yang jelas. Cicilan ke bank pun sudah tertutupi selama setahun hanya dengan mengandalkan 12 kamar indekos miliknya. Sisa pendapatannya digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan ditabung.
Bisnis indekos untuk masa sekarang pun masih besar pasarnya. Ditambah dengan bantuan teknologi seperti aplikasi pencarian indekos. Aji mengaku, dirinya bergabung dengan Mamikos yang dapat mempromosikan indekosnya, sehingga tetap ramai sekalipun pada masa pandemi. Itu yang membuatnya percaya diri hingga sekarang, bahkan ingin terus membangun banyak indekos di banyak tempat.
Aji memilih investasi jangka panjang dengan membangun indekos. Dia hanya ingin seperti pegawai pemerintah pada saat tua atau ketika fisiknya sudah tidak kuat bekerja masih dapat berpenghasilan. Baginya berinvestasi properti lebih aman meskipun berat di awal. Nilainya pun akan terus naik dari tahun ke tahun. Bahkan, Aji pun giat menabung kembali untuk membeli tanah. Rencananya akan dibuat kebun atau kamar indekos lagi masih dalam rencananya. (Baca juga: Aliran Modal Asing ke Luar Capai Rp2,55 Triliun)
Beberapa orang yang melek investasi memang ingin menjamin masa tua mereka. Seperti yang dilakukan Tuti Chodijah, 63, sejak usia muda senang membeli perhiasan emas ketimbang barang lain yang tidak ada nilainya di kemudian hari. "Tidak terlalu suka beli baju dengan harga mahal. Beli yang biasa saja yang penting nyaman dipakai. Peralatan rumah tangga yang biasa perempuan koleksi pun saya jarang beli. Kalau punya uang lebih langsung beli anting emas, atau cincin meskipun hanya satu gram," ungkapnya.
Lihat Juga :