Perang Dagang, Seruan Boikot Produk China Menggema di Australia

Jum'at, 11 Desember 2020 - 16:00 WIB
(Baca Juga: Diancam China dengan 'Hukuman Abadi', Australia Dibela AS)

Di bagian lain, sejumlah pakar mengomentari seruan untuk memboikot produk dan bisnis China sebagai aksi yang konyol dan justru dapat menjadi bumerang bagi Australia, sementara tidak berdampak pada China.

Profesor University of Sydney Business School Hans Hendrischke mengatakan, Australia adalah mitra dagang kecil dan tidak ada boikot yang dapat merugikan China. Sebaliknya, langkah itu hanya dapat merugikan negara itu sendiri.

Paling banter, kata dia, aksi boikot ini hanya memberi "momen menyenangkan" saja bagi konsumen yang merasa puas setelah memboikot barang impor China, atau tidak membeli dari bisnis lokal yang dimiliki China.

"Ini benar-benar hanya akan berdampak dalam arti politik, di dalam negeri, di mana kami akan merasa kami memiliki beberapa lembaga," kata Hendrischke kepada NCA NewsWire.

"Itu tidak akan berdampak ekonomi pada China karena ada asimetri total, mereka menjadi klien utama Australia dan kita adalah salah satu klien global mereka, dan dalam hal ini klien kecil, untuk semua barang standar yang mereka ekspor ke seluruh dunia," paparnya.

Dia menambahkan, jika masyarakat Australia membeli lebih sedikit barang China, hal itu tidak akan membuat perbedaan. Pasalnya, posisi kedua negara kurang seimbang.

Profesor Emeritus Griffith University Colin Mackerras juga mengkritik seruan boikot. Dia mengklaim bahwa hal itu akan menyebabkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan.

"Kita seharusnya tidak mulai memboikot barang-barang China dan bahkan memboikot produsen anggur Australia milik China," katanya. "Menghindari produk buatan China dengan sengaja seperti melukai diri sendiri, dan saya yakin itu konyol," imbuhnya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!