Ini Dia Sosok Industrialis Rokok Kretek di Masa Lampau
Sabtu, 12 Desember 2020 - 06:43 WIB
“Di Museum Kretek Kudus diperlihatkan bahwa Nitisemito sebagai pengusaha yang paling awal membuka pabrik rokok kretek di Kudus yakni tahun 1905,” demikian seperti dikutip dari buku 'Raja Kretek M Nitisemito' yang diterbitkan pada 2015 lalu.
(Baca juga: Harga Rokok Tambah Mahal, Begini Reaksi Kocak Para Ahli Hisap )
Dalam buku yang disusun oleh Erlangga Ibrahim dan Syahrizal Budi Putranto tersebut, selain Nitisemito ada beberapa pengusaha lain yang juga membuka pabrik rokok yakni antara lain M Atmowidjoyo (rokok merek Goenoeng Kedoe, 1910), H Ali Asikin (Djangkar, 1918), HM Ashadi (Delima, 1918), dan HM Moeslich (Teboe & Tjengkeh, 1919).
Kebesaran nama Nitisemito sebelumnya juga terungkap dalam buku lain, 'Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya' yang ditulis Rudy Badil. Pada buku yang terbit tahun 2011 silam itu, diulas bagaimana peran Nitisemito dalam masa-masa awal industri rokok.
“Usaha rokok Nitisemito maju pesat pada 1916 saat dia berusia 53 tahun. Kala itu Bal Tiga resmi menjadi cap rokoknya bersamaan dengan didirikannya pabrik besar di Desa Jati di tanah seluas enam hektare. Pabrik rokok ini adalah yang terbesar di Indonesia hingga sebelum masa Perang Dunia II,” seperti dikutip dalam buku tersebut.
(Baca juga: Harga Rokok Tambah Mahal, Begini Reaksi Kocak Para Ahli Hisap )
Dalam buku yang disusun oleh Erlangga Ibrahim dan Syahrizal Budi Putranto tersebut, selain Nitisemito ada beberapa pengusaha lain yang juga membuka pabrik rokok yakni antara lain M Atmowidjoyo (rokok merek Goenoeng Kedoe, 1910), H Ali Asikin (Djangkar, 1918), HM Ashadi (Delima, 1918), dan HM Moeslich (Teboe & Tjengkeh, 1919).
Kebesaran nama Nitisemito sebelumnya juga terungkap dalam buku lain, 'Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya' yang ditulis Rudy Badil. Pada buku yang terbit tahun 2011 silam itu, diulas bagaimana peran Nitisemito dalam masa-masa awal industri rokok.
“Usaha rokok Nitisemito maju pesat pada 1916 saat dia berusia 53 tahun. Kala itu Bal Tiga resmi menjadi cap rokoknya bersamaan dengan didirikannya pabrik besar di Desa Jati di tanah seluas enam hektare. Pabrik rokok ini adalah yang terbesar di Indonesia hingga sebelum masa Perang Dunia II,” seperti dikutip dalam buku tersebut.
Lihat Juga :