Miris Lihat Harga Singkong Petani Cuma Rp500 per Kg, MSI Tempuh 3 Langkah Ini
Rabu, 23 Desember 2020 - 18:32 WIB
"Misalnya dengan pemupukan yang baik dan tepat, produktivitasnya minimal bisa 40 ton per hektar. Kalau dijual dengan harga Rp1.000 per Kg saja kan petani sudah dapat Rp40 juta per hektar. Itu lebih hebat dan tinggi pendapatannya dibanding sawit," ungkap Arifin.
Langkah ketiga, lanjut dia, MSI mendukung program pemerintah terkait pembentukan korporasi petani. "Caranya, MSI membantu mengembangkan korporasi di wilayah desa, 2-3 desa kita bikin satu korporasi semacam Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Program ini masih on progress, sudah ada satu yang kita buat di Sukabumi," ungkapnya.
Arifin menambahkan, saat ini kapasitas produksi singkong baru sekitar 20 juta ton per tahun. Menurutnya, angka ini masih bisa ditingkatkan hingga 30 juta ton per tahun. Tentunya hal ini hanya bisa tercapai melalui kerja sama yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan.
(Baca juga: Gawattt.. RPP Cipta Kerja Sektor Kehutanan Bebani Petani Sawit )
"Ruang pengembangannya masih luas dan demand pun masih bisa terus ditingkatkan. Apalagi kita kan masih impor tapioka juga, belum lagi kalau kita kembangkan produk hilirnya," tuturnya.
Sebagai catatan, ketahanan pangan dan diversifikasi pangan penting untuk dilakukan seiring terus meningkatnya populasi penduduk dan menyempitnya lahan persawahan. Singkong yang dikenal merakyat merupakan komoditas potensial yang bisa dikembangkan sebagai pangan alternatif pengganti nasi.
Arifin mengakui selama ini singkong kurang dilirik karena citranya sebagai makanan kelas bawah. Padahal, ubi kayu ini atau singkong merupakan sumber karbohidrat dan protein dengan banyak keunggulan.
Langkah ketiga, lanjut dia, MSI mendukung program pemerintah terkait pembentukan korporasi petani. "Caranya, MSI membantu mengembangkan korporasi di wilayah desa, 2-3 desa kita bikin satu korporasi semacam Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Program ini masih on progress, sudah ada satu yang kita buat di Sukabumi," ungkapnya.
Arifin menambahkan, saat ini kapasitas produksi singkong baru sekitar 20 juta ton per tahun. Menurutnya, angka ini masih bisa ditingkatkan hingga 30 juta ton per tahun. Tentunya hal ini hanya bisa tercapai melalui kerja sama yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan.
(Baca juga: Gawattt.. RPP Cipta Kerja Sektor Kehutanan Bebani Petani Sawit )
"Ruang pengembangannya masih luas dan demand pun masih bisa terus ditingkatkan. Apalagi kita kan masih impor tapioka juga, belum lagi kalau kita kembangkan produk hilirnya," tuturnya.
Sebagai catatan, ketahanan pangan dan diversifikasi pangan penting untuk dilakukan seiring terus meningkatnya populasi penduduk dan menyempitnya lahan persawahan. Singkong yang dikenal merakyat merupakan komoditas potensial yang bisa dikembangkan sebagai pangan alternatif pengganti nasi.
Arifin mengakui selama ini singkong kurang dilirik karena citranya sebagai makanan kelas bawah. Padahal, ubi kayu ini atau singkong merupakan sumber karbohidrat dan protein dengan banyak keunggulan.
Lihat Juga :