Marcomm Megashifts
Sabtu, 09 Januari 2021 - 08:00 WIB
Managing Partner Inventure Yuswohady. Foto/Istimewa
JAKARTA - Yuswohady
Managing Partner Inventure
Pandemi Covid-19 tak hanya menyebabkan perubahan perilaku konsumen secara sangat mendasar, tapi juga mengubah cara marketer berkomunikasi dengan audiensnya. Selama setahun ini saya mengamati berbagai perubahan perilaku konsumen dan implikasinya bagi pemasaran, khususnya terkait komunikasi pemasaran.
Berikut ini adalah enam pergaseran besar (megashifts) komunikasi pemasaran (marcomm) yang saya temukan, yang mau tak mau akan memaksa setiap marketers untuk mengubah pendekatan dan strategi komunikasi yang mereka jalankan.
From COMPANY at the Center to CUSTOMER at the Center
“Put customers at the center of strategy give you a unified message + channel interactions. It leads you to their universe.”
Dalam paradigma komunikasi pemasaran lama, “brand adalah panglima” dimana brand DNA,brandidentity, ataubrand value propositiondirumuskan kemudian disebarkan ke target market. Konsumen menjadi obyek pasif yang “dihajar” dengan eksposur brand.
Baca Juga : Pengaduan Konsumen Indonesia Masih Rendah, Belum di Level Kritis
Ketika platform digital memungkinkan “konsumen menjadipanglima”, maka paradigma itu harus dibalik. Proses komunikasi pemasaran berawal dan berfokus pada konsumen. Marketer harus memahami keinginan konsumen berikutchannelinteraksinya, baru kemudian pesan disampaikan secaracustomisedbahkanpersoalizedke konsumen.
Managing Partner Inventure
Pandemi Covid-19 tak hanya menyebabkan perubahan perilaku konsumen secara sangat mendasar, tapi juga mengubah cara marketer berkomunikasi dengan audiensnya. Selama setahun ini saya mengamati berbagai perubahan perilaku konsumen dan implikasinya bagi pemasaran, khususnya terkait komunikasi pemasaran.
Berikut ini adalah enam pergaseran besar (megashifts) komunikasi pemasaran (marcomm) yang saya temukan, yang mau tak mau akan memaksa setiap marketers untuk mengubah pendekatan dan strategi komunikasi yang mereka jalankan.
From COMPANY at the Center to CUSTOMER at the Center
“Put customers at the center of strategy give you a unified message + channel interactions. It leads you to their universe.”
Dalam paradigma komunikasi pemasaran lama, “brand adalah panglima” dimana brand DNA,brandidentity, ataubrand value propositiondirumuskan kemudian disebarkan ke target market. Konsumen menjadi obyek pasif yang “dihajar” dengan eksposur brand.
Baca Juga : Pengaduan Konsumen Indonesia Masih Rendah, Belum di Level Kritis
Ketika platform digital memungkinkan “konsumen menjadipanglima”, maka paradigma itu harus dibalik. Proses komunikasi pemasaran berawal dan berfokus pada konsumen. Marketer harus memahami keinginan konsumen berikutchannelinteraksinya, baru kemudian pesan disampaikan secaracustomisedbahkanpersoalizedke konsumen.
Lihat Juga :