FPI-PII Mencoba Menjawab Panggilan Negara di Periode 2021
Senin, 11 Januari 2021 - 21:27 WIB
“Zaman sudah berubah, apalagi dengan adanya pandemi ini tantangan global menjadi jauh meningkat. Peran insinyur termasuk didalamnya insinyur perempuan sangat dibutuhkan untuk mencarikan solusi bagi permasalahan-permasalahan ini,” ujarnya.
Ia mengatakan, pihaknya akan berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan kontribusi perempuan insinyur di berbagai arena. “Sudah banyak perempuan-perempuan insinyur yang berkontribusi dalam berbagai arena, baik di perusahaan, dunia akademis, maupun dunia bisnis dan ekonomi kreatif. Kolaborasi harus dilaksanakan dari berbagai elemen ini agar tercipta sebuah kerjasama yang baik dan efektif,” paparnya.
Sementara itu, Heru Dewanto dalam sambutannya mengatakan, pihaknya berharap FPI-PII dapat menjadi salah satu motor utama transformasi keinsinyuran. “PII mencoba menjawab panggilan negara dengan mentransformasi rantai nilai keinsinyuran mulai dari pendidikan akademik, pendidikan profesi insinyur, hingga pengembangan kompetensi insinyur. Tujuannya adalah tercapai kualifikasi insinyur Indonesia yang setara dan bersaing di tingkat global," ucapnya.
Ia juga mengatakan bahwa sepanjang sejarah, insinyur perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan peradaban manusia. Di Indonesia sendiri ada Prof. Wiratmi Budianto dari UGM yang menemukan teknologi waste water treatment.
"Kita juga menemukan Prof. Adi Utarini dalam 10 Most Influencial Scientist, yang menemukan teknologi melawan demam berdarah. Kita juga menemukan Ibu Tri Mumpuni dalam 22 Most Influential Muslim Scientists yang telah menjadi pelopor pembangkit listrik tenaga air. Juga Ibu Latifah Nurahmi yang merupakan tokoh dibalik robot RAISA dari ITS," jelasnya.
Ia mengatakan, pihaknya akan berusaha sekuat mungkin untuk meningkatkan kontribusi perempuan insinyur di berbagai arena. “Sudah banyak perempuan-perempuan insinyur yang berkontribusi dalam berbagai arena, baik di perusahaan, dunia akademis, maupun dunia bisnis dan ekonomi kreatif. Kolaborasi harus dilaksanakan dari berbagai elemen ini agar tercipta sebuah kerjasama yang baik dan efektif,” paparnya.
Sementara itu, Heru Dewanto dalam sambutannya mengatakan, pihaknya berharap FPI-PII dapat menjadi salah satu motor utama transformasi keinsinyuran. “PII mencoba menjawab panggilan negara dengan mentransformasi rantai nilai keinsinyuran mulai dari pendidikan akademik, pendidikan profesi insinyur, hingga pengembangan kompetensi insinyur. Tujuannya adalah tercapai kualifikasi insinyur Indonesia yang setara dan bersaing di tingkat global," ucapnya.
Ia juga mengatakan bahwa sepanjang sejarah, insinyur perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan peradaban manusia. Di Indonesia sendiri ada Prof. Wiratmi Budianto dari UGM yang menemukan teknologi waste water treatment.
"Kita juga menemukan Prof. Adi Utarini dalam 10 Most Influencial Scientist, yang menemukan teknologi melawan demam berdarah. Kita juga menemukan Ibu Tri Mumpuni dalam 22 Most Influential Muslim Scientists yang telah menjadi pelopor pembangkit listrik tenaga air. Juga Ibu Latifah Nurahmi yang merupakan tokoh dibalik robot RAISA dari ITS," jelasnya.
Lihat Juga :