Menuju Bangunan Sehat: Kenyamanan Termal Adaptif

Rabu, 13 Januari 2021 - 22:52 WIB
Sub-topik pertama pada tanggal 13 dan 14 Agustus 2020 membahas tentang pengelolaan kualitas udara dalam ruangan. Perlu disadari bahwa 90% waktu masyarakat urban beraktivitas di dalam gedung. Sedangkan, kandungan polutan dalam ruangan cukup tinggi yang terdiri dari polutan kimia dan biologis.

Untuk polutan kimia, umumnya berasal dari emisi kandungan material finishing maupun furnishing, sementara polutan biologis seperti bakteri dan virus seringkali berasal dari para penghuninya. Pengurangan sumber polutan merupakan langkah awal yang diperlukan sebagai strategi awal pada pengelolaan kualitas udara dalam ruang.

Terkait dengan penyebaran bakteri dan virus, selain mengurangi jumlah okupansi dalam ruang, pengurangan sumber polutan dapat dilakukan dengan mengurangi kandungan konsentrasi polutan biologis dengan mengintroduksi udara luar ke dalam ruangan atau bangunan.

Untuk lebih memantapkan strategi tersebut, sistem tata udara perlu juga dilengkapi dengan sistem filtrasi yang mumpuni, yaitu yang memiliki kualifikasi setara dengan MERV 13 berdasarkan standar ASHRAE 52.2.

Volume introduksi udara luar yang dibutuhkan untuk mengurangi konsentrasi polutan biologis pada masa pandemi cukup besar dibanding pada standar kondisi sebelumnya. Untuk bangunan yang memiliki sistem tata udara mekanik, hal ini akan mempengaruhi secara signifikan terhadap konsumsi energi apabila standar kenyamanan udara terkait suhu masih berkisar di 25oC.

Kondisi ini terjadi dikarenakan tidak hanya udara luar, tetapi panas radiasi juga ikut masuk ke dalam ruangan sehingga menjadi beban pendingin. Untuk itu, sub-topik kedua pelatihan pada tanggal 5, 6 dan 9 November 2020 membahas tentang kenyamanan termal adaptif yang memasukkan faktor psikologis untuk membentuk persepsi kenyamanan termal baru, yang relatif lebih tinggi dari kenyamanan termal sebelumnya namun masih dapat diterima karena didukung oleh kecepatan pergerakan udara yang memadai.

Baca Juga: Pengembangan Ekonomi Hijau Butuh Terobosan Sains
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!