Pengembangan Ekonomi Hijau Butuh Terobosan Sains

loading...
Pengembangan Ekonomi Hijau Butuh Terobosan Sains
Badan Restorasi Gambut terus melakukan restorasi gambut. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Upaya untuk merestorasi gambut terus dilakukan Badan Restorasi Gambut (BRG).Bersama dengan para peneliti, akademisi, dan masyarakat, serta pemerintah daerah, mengadakan diskusi ilmiah restorasi ekosistem gambut. Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan BRG, Haris Gunawan mengatakan para ilmuwan membuka diri untuk membuat terobosan sains bagi restorasi gambut.

"Kita harus mendengar para pihak yang mengolah gambut dan kita ingin pemanfaatan ekosistem gambut dapat memberikan kontribusi dalam konteks bersama,memulihkan tata kelola ekosistem gambut," ucap Haris dalam rilisnya di Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Baca Juga: Dianggap Nggak Penting, Jokowi Diminta Bubarkan Kementeriannya Luhut

Haris berharap para ahli bisa membuat terobosan pengembangan ekonomi hijau untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarareal gambut. Hal serupa juga disuarakan olehDirektur Pusat Inovasi, Teknologi, Komersialisasi, Manajemen Hutan dan Lahan, Universitas Lambung Mangkurat, Prof Yudi Firmanul Arifin, pemanfaatan gambut untuk pertanian perlu meningkatkan perekonomian masyarakat.Ada beberapa komoditas pertanian yang cocok di lahan gambut tipis dengan fungsi budidaya.



"Potensi komoditas pertanian yang bagus, sudah dilakukan oleh sebagian masyarakat, sepertisemangka, nanas, bilungka, dan petai. Selain itu ada beberapa jenis kayu, misalnya meranti rawa, gelam, dan gemor," kata dia.

Tetapi, pembukaan lahan gambut dapatmempengaruhi jumlah spesies endemik lahan gambut dan meningkatkan potensi kebakaran apabila tidak dikelola dengan benar. "Selain itu pembukaan lahan gambut jugaakan mempengaruhi kendali hidrologis," kata Yudi.

Yudi menambahkan, lahan gambut dapat menyerap 13 kali lipat dari beratnya dan menyimpan cadangankarbon yang besar. Melihat peran penting lahan gambut yang rentan terbakar,Guru Besar Fakultas Geofisika dan Meteorologi IPB University, Prof. Daniel Murdiyarso menekankan pada pengelolaan tata air. Tata air yang baik dapatmengurangi risiko kebakaran sekaligus emisi gas rumah kaca. "Kebakaran itu komponennya banyak, yang menentukan sekarang adalah bagaimana manajemen tata air di tempat yang terdegradasi,” jelas Daniel.



Untuk menemukanmanajemen tata tata air yang tepat, Prof Daniel mengatakan perlu melakukan pendekatan sains. Terutama pada teknik penyekatan kanal. "Penyekatan kanal akanmereduksi oksidasi bahan organik yang bisamenurunkan respirasi heterotrofik," ujar dia.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top