Banker Is Marathoner, Not a Sprinter
Sabtu, 23 Januari 2021 - 07:22 WIB
“Bankir adalah pelari maraton,” kata Budi Sadikin. Ini adalah sebuah perumpamaan. Maksudnya, menurut Budi, adalah bahwa seorang bankir harus seperti pelari maraton yang sabar, pruden, resilien, dan bisa selalu mengatur kecepatan dan ritme larinya agar tenaga tetap terjaga hingga di titik akhir garis finish.
Kesabaran dan mengatur ritme ini penting karena jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari maraton cukup jauh. Hal ini berbeda dengan pelari sprint yang berjarak pendek 100 atau 200 meter. Seorang pelari sprint memang harus menghabiskan tenaganya dalam ukuran detik untuk mencapai garis finish karena jaraknya yang pendek.
Banyak pemimpin bisnis yang terlalu terobsesi pada pertumbuhan dan all out menciptakan lompatan pertumbuhan yang impresif. Di bisnis lain memang seharusnya begitu, namun di industri perbankan kondisinya sedikit berbeda dengan industri lain.
Baca Juga : Perbankan Syariah Harus Berperan Kurangi Kemiskinan
Industri perbankan agak berbeda dengan industri lain. Di industri lain, pertumbuhan bisa didorong sekencang mungkin, tapi di industri perbankan tidak begitu. Ibarat mobil, lajunya tak bisa terus-menerus dipacu. “Nanti bisa overheating,” kata Budi. Jadi laju mobil harus terus dijaga keseimbangannya antara “ngegas” dan “ngerem”.
Apabila laju pertumbuhan terus dipacu tanpa memperhatikan kapasitas dan kemampuan organisasi, hal ini bisa memunculkan risiko berupa menurunnya kualitas aset produktif. Pertumbuhan aset yang terus membesar tapi kemudian diikuti dengan semakin memburuknya kualitas aset tersebut tentu saja ini tidak sehat.
Kesabaran dan mengatur ritme ini penting karena jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari maraton cukup jauh. Hal ini berbeda dengan pelari sprint yang berjarak pendek 100 atau 200 meter. Seorang pelari sprint memang harus menghabiskan tenaganya dalam ukuran detik untuk mencapai garis finish karena jaraknya yang pendek.
Banyak pemimpin bisnis yang terlalu terobsesi pada pertumbuhan dan all out menciptakan lompatan pertumbuhan yang impresif. Di bisnis lain memang seharusnya begitu, namun di industri perbankan kondisinya sedikit berbeda dengan industri lain.
Baca Juga : Perbankan Syariah Harus Berperan Kurangi Kemiskinan
Industri perbankan agak berbeda dengan industri lain. Di industri lain, pertumbuhan bisa didorong sekencang mungkin, tapi di industri perbankan tidak begitu. Ibarat mobil, lajunya tak bisa terus-menerus dipacu. “Nanti bisa overheating,” kata Budi. Jadi laju mobil harus terus dijaga keseimbangannya antara “ngegas” dan “ngerem”.
Apabila laju pertumbuhan terus dipacu tanpa memperhatikan kapasitas dan kemampuan organisasi, hal ini bisa memunculkan risiko berupa menurunnya kualitas aset produktif. Pertumbuhan aset yang terus membesar tapi kemudian diikuti dengan semakin memburuknya kualitas aset tersebut tentu saja ini tidak sehat.
Lihat Juga :