Neraca Dagang Surplus di Maret Jadi Momentum Jaga Ekspor
Jum'at, 17 April 2020 - 13:47 WIB
Dengan demikian, neraca perdagangan selama Januari-Maret 2020 mengalami surplus USD2,62 miliar dengan nilai ekspor sebesar USD41,79 miliar dan impor USD39,17 miliar. Sambung Fithra Faisal melihat sepanjang Januari sampai Maret surplus neraca perdagangan dipicu oleh kinerja ekspor dan ini kalau secara histori jarang terjadi.
Biasanya kalau neraca perdagangan terjadi surplus, maka kinerja impor turun dalam dibanding ekspor. Namun sepanjang kuartal di tahun 2020 ini, melihat kinerja ekspor tumbuh cukup baik dan mencetak kurs neraca perdagangan terutama di bulan Februari dan Maret.
Dan juga menggembirakan, surplus perdagangan ini didominasi oleh ekspor non migas, dimana yang lebih banyak diekspor besi baja dan produk olahan. Terang dia, bahwa secara nilai tambah ekspor Indonesia bergerak pada nilai tambahnya tinggi.
"Saya masih melihat kecenderungan surplus ini baik di bulan April atau Mei karena memang ada penurunan impor barang baku, industri kita saat ini melambat, maka permintaan akan bahan baku, juga melambat. Itu sebetulnya bukan berita bagus, ini bisa menganggu eksport," jelasnya..
Pemerintah pasti sudah cukup antisipatif dengan melakukan relaksasi kebutuhan impor, terutama bahan baku kebutuhan industri yang memang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi kemudian diimport lagi. Jadi di sisi lain dia melihat China dari negara tujuan eksport masih dominan dan kecenderungan permintaannya ekspor meningkat.
Hal ini memperlihatkan bahwa China dalam proses recovery. Sementara itu terjadi peralihan dari negara negara lain yang biasanya mengimpor dari China kemungkinan akan beralih ke Asia Tenggara dan Indonesia sebenarnya mendapatkan peluang.
Biasanya kalau neraca perdagangan terjadi surplus, maka kinerja impor turun dalam dibanding ekspor. Namun sepanjang kuartal di tahun 2020 ini, melihat kinerja ekspor tumbuh cukup baik dan mencetak kurs neraca perdagangan terutama di bulan Februari dan Maret.
Dan juga menggembirakan, surplus perdagangan ini didominasi oleh ekspor non migas, dimana yang lebih banyak diekspor besi baja dan produk olahan. Terang dia, bahwa secara nilai tambah ekspor Indonesia bergerak pada nilai tambahnya tinggi.
"Saya masih melihat kecenderungan surplus ini baik di bulan April atau Mei karena memang ada penurunan impor barang baku, industri kita saat ini melambat, maka permintaan akan bahan baku, juga melambat. Itu sebetulnya bukan berita bagus, ini bisa menganggu eksport," jelasnya..
Pemerintah pasti sudah cukup antisipatif dengan melakukan relaksasi kebutuhan impor, terutama bahan baku kebutuhan industri yang memang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi kemudian diimport lagi. Jadi di sisi lain dia melihat China dari negara tujuan eksport masih dominan dan kecenderungan permintaannya ekspor meningkat.
Hal ini memperlihatkan bahwa China dalam proses recovery. Sementara itu terjadi peralihan dari negara negara lain yang biasanya mengimpor dari China kemungkinan akan beralih ke Asia Tenggara dan Indonesia sebenarnya mendapatkan peluang.
Lihat Juga :