Simak! Ambisi RI Jadi Raja Industri Baterai Mobil Listrik Dunia

Senin, 01 Februari 2021 - 19:15 WIB
Agus menuturkan, penjajakan calon mitra didasarkan pada sejumlah kriteria. Pertama, memiliki jejak global di dalam indutri baterai EV dan memiliki rencana untuk ekspansi bisnis. Kedua, memiliki kekuatan finansial dan investasi di bidang baterai. Ketiga, memiliki reputasi merek yang baik dan memiliki hubungan dengan perusahaan Original Equipment Manufacture (OEM).

Menurut Agus, dari proses penjajakan calon mitra untuk gelombang satu terdapat 7 grup perusahaan yang memenuhi kriteria, diantaranya CATL, LG Chem, Samsung, Tesla, Panasonic.

"Bila Indonesia menjadi pemain global baterai EV maka akan menghasilkan sekitar USD26 miliar pada 2030 dengan asumsi kapasitas 140 gigawatt hour. Dampak ekonomi terbesar jika EV dikembangkan dari hulu ke hilir maka selain diperoleh sekitar USD26 miliar, tenaga kerja dapat dibangkitkan sekitar 23.500 orang dengan peningkatan neraca perdagangan USD9 miliar," jelasnya.

Baca Juga: Investasi Bangun Ekosistem Industri Baterai Listrik Capai Rp238 Triliun

Adapun investasi yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik berbasis baterai dari hulu sampai hilir mencapai USD13,4-17,4 miliar. "Ini akan dilaksanakan masing-masing BUMN atau melalui join venture company dengan mitra internasional," tandasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!