Daya Beli Pengaruhi Permintaan Kredit
Selasa, 09 Februari 2021 - 07:17 WIB
Hingga akhir Desember 2020, kata Aestika, secara konsolidasian BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp938,37 triliun atau tumbuh 3,89% year on year. Bahkan, khusus kredit mikro BRI tumbuh double digit mencapai 14,18 persen."Angka tersebut jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional di tahun 2020 yang diperkirakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berada dikisaran minus 1 hingga 2 persen," ungkapnya.
Sementara, Direktur Finance & SPAPM PT Bank CIMB Niaga Tbk Lee Kai Kwong mengatakan, penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 125 basis point dari 5% menjadi 3,75% selama tahun 2020 telah diikuti penurunan suku bunga produk-produk perbankan baik pinjaman maupun simpanan nasabah.
Dia memaparkan, CIMB Niaga sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia dari sisi aset, secara bertahap juga telah melakukan penyesuaian suku bunga produk-produk pinjaman dan simpanan nasabah sejalan dengan penurunan suku bunga acuan.
"Suku bunga produk-produk CIMB Niaga, baik suku bunga pinjaman maupun simpanan nasabah, selalu disesuaikan dengan suku bunga acuan sembari tetap mempertimbangkan faktor-faktor lainnya seperti kondisi pasar keuangan, industri perbankan secara umum, faktor likuiditas pasar, dan faktor risiko kredit," tegas Lee Kai Kwong kepada KORAN SINDO.
Dia membeberkan, berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2020 turun 2,4% year on year yang mencerminkan turunnya permintaan baik dari sisi konsumen maupun bisnis sebagai dampak pandemi Covid-19.
CIMB Niaga, kata Lee Kai Kwong, memperkirakan pertumbuhan kredit akan positif pada 2021. Ada dua alasan yang disodorkan CIMB Niaga yakni dimulainya program vaksinasi Covid-19 dan perbaikan sejumlah indikator makro sejak kuartal III/2020 baik dari sisi konsumen (seperti Indeks Keyakinan Kosumen) maupun sisi bisnis (seperti Indeks PMI Manufakur).
Sementara, Direktur Finance & SPAPM PT Bank CIMB Niaga Tbk Lee Kai Kwong mengatakan, penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 125 basis point dari 5% menjadi 3,75% selama tahun 2020 telah diikuti penurunan suku bunga produk-produk perbankan baik pinjaman maupun simpanan nasabah.
Dia memaparkan, CIMB Niaga sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia dari sisi aset, secara bertahap juga telah melakukan penyesuaian suku bunga produk-produk pinjaman dan simpanan nasabah sejalan dengan penurunan suku bunga acuan.
"Suku bunga produk-produk CIMB Niaga, baik suku bunga pinjaman maupun simpanan nasabah, selalu disesuaikan dengan suku bunga acuan sembari tetap mempertimbangkan faktor-faktor lainnya seperti kondisi pasar keuangan, industri perbankan secara umum, faktor likuiditas pasar, dan faktor risiko kredit," tegas Lee Kai Kwong kepada KORAN SINDO.
Dia membeberkan, berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2020 turun 2,4% year on year yang mencerminkan turunnya permintaan baik dari sisi konsumen maupun bisnis sebagai dampak pandemi Covid-19.
CIMB Niaga, kata Lee Kai Kwong, memperkirakan pertumbuhan kredit akan positif pada 2021. Ada dua alasan yang disodorkan CIMB Niaga yakni dimulainya program vaksinasi Covid-19 dan perbaikan sejumlah indikator makro sejak kuartal III/2020 baik dari sisi konsumen (seperti Indeks Keyakinan Kosumen) maupun sisi bisnis (seperti Indeks PMI Manufakur).
Lihat Juga :