Produk Asing: Benci Tapi Rindu, RI Harus Mantap dan Akurat Soal Impor

Selasa, 09 Maret 2021 - 05:05 WIB
“Jadi harus mantap dan akurat kalau mau benci impor gitu kan. Ya impor yang mana gitu kan yang mau di benci ? Saya bandingkan dengan Malaysia, Malaysia juga banyak impor mesin dan elektronik, ada juga migas. Tapi yang diekspor lebih banyak lagi manufakturnya,” ujar Berly.

“Gimana nih kok dia bisa melakukan seperti ini ya? Dari segi nilai lebih banyak, dari segi komposisi juga lebih manufakturnya ya. Itu karena Malaysia sudah menjadi salah satu titik produksi global supply chain, jadi di mana yang diimpor kemudian diekspor lagi,” tambah dia.

Baca Juga: Benci Produk Asing, Jokowi Enggan Disebut Bangsa Penyuka Proteksionisme

Sementara itu, Berly menjelaskan, berdasarkan data, ekonomi Indonesia relatif tertutup dan rasio trade to GDP Indonesia juga kecil. Kondisi ini berbeda di negara yang cukup maju dan meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Sebagai contoh di Malaysia, Thailand, dan Vietnam justru memiliki tingkat rasio trade to GDP yang cukup besar.

“Kita lihat bahwa ekspor dari negara-negara yang saya sebut tadi itu banyakan ekspor manufaktur, ekspor medium dan high tech. Jadi secara teoritis ya ini debat klasik antara Import Substitution (IS) dan Export Promotion (EP). Di mana negara yang baru merdeka dan awal berkembang itu ga punya banyak valuta asing, ga punya Dollar, EURO, atau Yen sehingga mereka perlu berhemat sehingga berusaha mengurangi impor,” jelas dia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!